Archive for August, 2010

29
Aug
10

Tentang Indonesia Malaysia : Mengganti tindakan “Ganyang Malingsia” dengan cara Elegan

Saya membuat artikel  ini tidak bermaksud memprovokasi atau membuat kekeruhan di tengah ketegangan kedua negara, saya hanya membuat sebuah wacana dan pemikiran saja. Hubungan Malaysia dan Indonesia  memang dikatakan tidak pernah harmonis. Selalu saja muncul masalah dari mulai urusan tenaga kerja, budaya hingga masalah kepemilikian pulau Sipadan dan Ligitan.

Sebenarnya secara negara berdaulat, Malaysia itu mirip dengan Rezim Orba semua dikendalikan oleh satu orang yang saat ini “masih berkuasa”. Coba saja tengok media di Malaysia dimiliki dan dikendalikan pemerintah, segala pemberitaan yang akan menggoyang kesatuan negara akan diblokade. Anda masih ingat kisah haru-birunya Manohara? ketika semua media Indonesia melansir kisah memilukan itu tak secuil beritapun muncul di koran-koran Malaysia sehingga warga Malaysia tidak tahu-menahu soal berita Manohara. Pemerintah tahu, berita tersebut yang akan menggoyang kedaulatan Negeri Kelantan sebagai calon Yang dipertuan Agong Malaysia periode berikutnya. Dari sisi budaya, Malaysia tidak punya kebudayaan asli selain Melayu, Borneo dan etnis lain seperti Cina, dan India. Adapun batik, Reog Ponorogo, Keroncong, Angklung sengaja dibudidayakan dari benih yang dibawa dari negeri jirannya yaitu Indonesia. Dan untuk memperkuat kredibilitas Malaysia di mata dunia, budaya-budaya tersebut cepat-cepat didaftarkan di PBB sebagai budaya asli Malaysia. Harus diakui untuk hal ini Malaysia selalu berfikiran kedepan, pada saat Indonesia masih memikirkannya Malaysia sudah bertindak.

Jika dilihat dari  populasi, total penduduk Malaysia tidak lebih dari penduduk Jakarta, jika Indonesia sudah mencapai 250 juta, penduduk Malaysia tidak kurang dari 10%-nya. Perekonomian Malaysia mayoritas dilakukan oleh etnis cina meski mereka tetap dikendalikan Pemerintah. Siapapun pengusaha yang memberikan kontribusi kepada Negara akan diberi gelar Datuk kemudian Tenku dan gelar paling tinggi adalah Tun. Ingat Tony Fenandes adalah warga negara keturunan India biasa sebelum membeli dan membangun Air Asia. Sekarang didepan nama Tony diberi gelar Datok Tony Fernandes.

Bohong saja jika di Malaysia tidak ada korupsi, kaki tangan penguasa Malaysia juga seperti Rezim Soeharto menimbun harta seperti koruptor-koruptor kita. Cuma mereka lebih dahulu mementingkan kepentingan negara dulu baru kemudian kepentingan sendiri, nggak seperti di Indonesia seorang Gayus saja punya harta sampai 104 Milyar, dia dan kroni-kroninya mana pernah memikirkan kepetingan negara. Negara Malaysia ‘terlihat’ sangat aman, tentram dan maju, itu semua karena negara dikendalikan Pemerintah. Ada satu saja pembangkang macam Anwar Ibrahim akan dibungkam habis! Persis ketika Indonesia dalam Rezim Orba, semua ‘terlihat’ aman, tentram dan makmur padahal lawan politik dibungkam, tidak ada kebebasan pers bahkan tahun 1980an untuk membersihkan sampah masyarakat seperti preman ada istilahnya ‘Petrus” alias  penembak misterius.

Ingat, Indonesia bekas jajahan Belanda yang bukan saja Belanda menyedot kekayaan Indonesia selama 350 tahun tapi melemahkan mental  Indonesia  menjadi negara bermental budak, buktinya dengan sukarela Indonesia diberi label ‘Negeri Indon’ alias negeri budak karena salah satu keberhasilan Malaysia adalah membeli budak belian dari kita yang dikenal dengan sebutan TKI/TKW. Malaysia lupa tanpa 2.2 juta lebih TKI/TKW asal Indonesia negaranya tidak akan semaju sekarang. Siapa yang akan mengisi tenaga di sektor non formal seperti kuli bangunan atau siapa yang mengurus anak-anak dan rumah tangganya kalau bukan tenaga kerja kita ? Dan Malaysia berhasil mendidik warganya untuk menjadi ‘superior’ dan bermental ‘tuan’ padahal saya ingat ketika Malaysia merazai dan memulang TKI illegal, pembangunan gedung-gedung tinggi di KL mendadak berhenti karena pekerjanya banyak dipulangkan ke Indonesia, termasuk Berjaya Tower yang saya lihat disebelah hotel yang biasa saya tinggal. Kuala Lumpur yang tadinya hiruk-pikuk oleh pembangunan mendadak sepi pembangunan.

Hentikan pengiriman TKI/TKW ke Malaysia alihkan ke Hongkong, Arab Saudi dan blokir pengiriman TKI gelap yang umumya didanai cukong-cukong Malaysia! Pulangkan semua TKI/TKW legal ke Indonesia! Saya yakin pembangunan dan perekonomian Malaysia berhenti setidaknya hingga 30%. Saya dengar masuknya TKI illegal juga sebenarnya didanai oleh cukong-cukong Malaysia, mereka dibiarkan masuk ke Malaysia bekerja di sector non-formal seperti kuli bangunan dan perkebunan kelapa sawit, dan liciknya ‘tuan-tuan’ itu menjelang pekerjaannya selesai, mereka dilaporkan Polis Malaysia sehingga para TKI gelap itu dikejar-kejar polisi tanpa sempat mengambil upah terakhirnya. Sungguh tragis!

Malaysia adalah salah satu Negara bekas Jajahan Inggris, meskipun penjajah tetaplah penjajah berbeda dengan Belanda yan menyedot kita sampai ke tulang sumsum, Inggris selalu membuat negara persemakmurannya (istilah lain dari negara jajahan) makmur sepeninggalannya. Memang betul Malaysia mendapat hadiah kemerdekaan atas Inggris bukan dengan cara patriotik seperti Indonesia dalam merebut kemerdekaannya. Namun yang positif dari Malaysia adalah negara itu jauh lebih maju dari Indonesia. Banyak produk yang diekspor dari Malaysia ke negara lain seperti Vincci (produk yang saya bawa ke Indonesia), Nose, restauran asal Malaysia bertebaran di kota-kota besar Indonesia. Bahkan perancang sepatu asal Malaysia, Jimmy Choo sangat dikenal di dunia fashion International, belum lagi model atas Malaysia, Amber Chia dan Michelle Yeoh aktris kelahiran Malaysia yang sekarang berkiprah di Hollywood. Pengusaha-pengusaha Malaysia lebih punya keberanian berekspansi ke Indonesia dimana pasarnya sangat besar dibanding Malaysia sendiri.  Padahal Indonesia sangat berpotensi membawa brand asli Indonesia ke Malaysia selain restoran Padang seperti Sari Ratu yang telah memiliki 20 cabang di seantero  Malaysia atau Natrabu restoran padang favorit Mahathir Muhamad, Es Teller 77 dan Sushi Groove pun sudah banyak di Malaysia. Coba anda mampir ke House Sundanesse Food di lantai 4 KLCC selalu penuh pengunjung di jam siang dan malam. Yang pantas ditiru adalah brand donut asli Indonesia J Co yang antrian masih mengular hingga saat ini di toko pertamanya di KL Pavillion disusul outlet-outletnya di Giant Kota Damansara, Sunway Pyramid dan Johor Baru Square. J Co  bahkan sedang bersiap-siap membuka cabangnya di wilayah Petaling Jaya, Malacca dan Penang. Kita memiliki potensi di dunia kuliner, yuk kita serang Malaysia dengan mengekspor sebanyak-banyaknya restoran dan masakan Indonesia ke sana. Pemerintah harusnya memberi kemudahan dan bantuan kepada pengusaha restoran Indonesia membuka cabangnya di Malaysia seperti restoran Dapur Sunda, Sambhara atau Ayam Goreng Suharti dsb.

Dalam soal budaya, lagu-lagu pop Indonesia merajai tangga lagu di Malaysia, lagu-lagu Agnes Monica, Rossa, Gigi, Letto, ST12, Peter Pan, Ungu dsb serta konser-konser mereka diserbu ribuan fansnya di KL. Kekhawatiran Pemerintah Malaysia makin berjayanya musik-musik Indonesia kemudian memberlakukan larangan radio-radio di Malayisa untuk menyiarkan lagu-lagu Indonesia dibawah jam 10 malam. Rumah-rumah di Malaysia yang memiliki parabola dan televisi kabel lebih memilih acara-acara dan sinetron di televisi Indonesia. Bahkan sinetron-sinetron yang masih dibintangi Jeremy Thomas dire-run di TV3 dan amat digemari masyarakat Malaysia. Generasi muda Malaysia berkiblat ke Indonesia dalam hal bermusik. Mari kita serbu Malaysia dengan budaya pop Indonesia dan jejali generasi muda Malaysia agar mencintai buatan Indonesia.

Universitas dan sekolah International berkembang pesat di Malaysia sehingga salah satu daya tarik bagi masyarakat Indonesia adalah bersekolah di Malaysia selain negara serumpun sehingga bahasa dan makanan bukan kendala, bersekolah di Malaysia jauh lebih murah dibanding di Australia, USA atau Eropa. Tahukah anda, ada 300 dosen dan peneliti terbaik Indonesia yang kini bekerja di Malaysia ?  Ada 2 alasan mengapa mereka mengabdikan kelimuannya di Malaysia. Pertama, lingkungan akademik dan penelitian yang lebih kondusif dibandingkan di Tanah Air. Lingkungan kondusif yang dimaksud adalah kebebasan untuk mengembangkan kemampuan akademik dan penelitian karena ditunjang oleh fasilitas, akses jurnal yang luas, dan dukungan dana yang cukup besar. Kedua, kenyamanan bagi diri sendiri dan keluarga. Misalnya, kalau di Jakarta kondisi kemacetan yang sudah cukup parah, kepadatan, seringkali mempengaruhi jadwal kerja dan privasi mereka untuk bisa berkumpul dengan keluarga tepat waktu. Dan gaji yang diperoleh dari pekerjaan lebih baik dari Indonesia jadi tidak perlu lagi cari sampingan. Meskipun sedih mendapati kenyataan bahwa orang-orang pintar Indonesia dibajak oleh Malaysia, Pemerintah seyogyanya melepaskan mereka dengan membekali mereka dengan kecintaan pada Tanah Air dan lewat tangan mereka, penuhi generasi muda Malaysia dengan kecintaan pada Indonesia.

Kita jangan kecil hati jika Malaysia melestarikan budaya wayang kulit, reog ponorogo, angkung, tari bali, batik anggap saja budaya Jawa dilestarikan di Sumatera atau sebaliknya. Kita kadang lupa saking banyaknya budaya kita sampai-sampai kita lupa bagaimana melestarikannya sedang Malaysia meskipun tidak punya tapi menyadari bahwa budaya-budaya yang dibawa oleh kaum migran pantas juga dilestarikan. Kalau kita lihat Batik, sudah lama batik Malaysia tumbuh di Malaysia bahkan penggunaan batik sehari-hari dilakukan oleh Malaysia jauh sebelum Indonesia ‘sadar batik’. Wayang kulit juga bukan satu-satunya budaya Indonesia, wayang baik wayang orang, kulit atau golek sebenarnya tradisi hinduisme yang dibawa oleh penguasa Hindu Sri Wijaya di abad ketujuh dan kesenian itu menyebar di Langkasuka (Kedah), Palembang, Batavia dan Temasik. Tapi yang hebat dari Malaysia, mereka tahu bagaimana melestarikan dengan membuat inkubator pelestarian budaya dan mengeksposnya keluar negeri. Kalau dilihat, kan budaya Malaysia tidak banyak hanya berdasarkan etnis yang hidup disana seperti etnis cina, etnis, india, etnis melayu. Kebudayaan asli Malaysia yang mereka banggakan hanya budaya Melayu dan budaya Borneo. Kita juga jangan mempermasalahkan Rendang yang aslinya dari Padang muncul dan berkembang di Malaysia apa bedanya dengan rendang yang muncul di Tatar  Sunda dan rendang di daerah Jawa ? Lagu Rasa Sayange yang tumbuh dan berkembang di negara serumpun ketika muncul di iklan pariwisata Malaysia ; Trully Indonesia sempat membuat kita seperti kebakaran jenggot. Biarkan budaya kita berkembang di Malaysia, itu akan melemahkan Malaysia sebagai negara berdaulat.

Jika TKW tetap dikirim ke Malaysia, kan kebanyakan TKW di Malaysia adalah menjaga anak di rumah sementara orang tuanya bekerja. Pemerintah seharusnya mendidik calon TKW yang akan dikirim ke Malaysia untuk mempertebal kecintaan pada tanah air. Tugas utama TKW adalah membekali generasi penerus itu kecintaan akan Indonesia.

Jika semua itu dilakukan tanpa harus mengganyang Malaysia secara patriotik atau secara militer, kita lihat dalam 20-30 tahun ke depan nasib Malaysia ada di tangan kita! Generasi penerusnya akan mencintai Indonesia dibanding negaranya sendiri. Percaya itu!

Sekali lagi ini ini adalah opini saya, tidak ingin menimbulkan polemik dan pertentangan. Selamat bekerja!

Advertisements
13
Aug
10

Fenomena Midnight Sale

Midnight Sale dimana-dimana. Kayaknya hampir semua mall melakukan hal serupa. Bukan saja midnight sale dilakukan oleh mal di Jakarta saja tapi sudah mewabah ke Bandung, Surabaya dan Medan. Tanggal 25 dan 26 Agustus 2010 giliran Mall of Indonesia menyelenggarakan MOINight Salebration.

Apa sih sebetulnya keistimewaan midnight sale dibanding sale lainnya. Sebenarnya gak ada keistimewaan cuma diselenggarakan 1 hari dan sale hanya berlaku dari jam 8 malam sampai tengah malam. Barang-barang yang di-sale pun bukan barang-barang baru tentunya, stok lama yang diambil di gudang. Adalah Dabenhams, departemen store di Senayan City yang pertama kali melakukannya di tahun 2008. Kala itu animo masyarakat terhadap acara itu sangat besar. Midnight Sale yang dimaksud hanya memperpanjang waktu buka, yang biasanya buka sampai jam 10 malam diperpanjang hingga pas tengah malam. Yang lucu kala itu yang orang banyak beli adalah bantal dan guling karena bantal guling yang harga normalnya ratusan ribu di-sale jadi cuma 90rb saja (over stock dan menuh-menuhin gudang kali ya). Melihat animo yang cukup besar terhadap Dabenhmas Midnight Sale, Senayan City akhir membuat kegiatan serupa, semua tenant ditodong untuk turut serta. Respon dari masyarakat penyuka belanja sungguh diluar dugaan. Keberhasilan Senayan City kemudian diikuti oleh Pondok Indah Mall, Grand Indonesia, Mal Taman Anggrek, Supermal Karawaci, Pejaten Village, Emporium Pluit Mall, Mal Kelapa Gading kemudian menjalar ke Bandung. Istilahnya bisa beragam dari Midnight Shopping, Late Night Shopping, Super Midnight Sale hingga Night Salebration.

Kenapa fenomena Midnight Sale begitu hebat melanda kota Jakarta ? Apakah memanfaatkan masyarakat Jakarta yang insomnia ? Padahal yang yang di-sale kan bukan barang baru meskipun potongan bisa sampai 80% itu hanya beberapa item saja, broken size dan stok lama ? Ataukah karena tertarik dengan iklan Dabenhams yang menjanjikan potongan hingga 70% + 20% ? Pasti masyarakat berfikir kalau potongan harga itu berarti 90%, kalau benar maksudnya 90% kenapa menulisnya 70% + 20% coba ? Oke saya ajak anda berkalkulasi berapa potongan yang sebenarnya diberikan.

Jika harga normal adalah beli Rp.100.000 potongan 70% berarti harga barunya adalah Rp.30.000, jika ditambah 20% berarti 20% dari Rp.30.000, itu artinya harga akhirnya adalah Rp.24.000. Coba dicek jika harga jualnya Rp.24.000 berarti diskon yang sebenarnya adalah 76% bukan 90% seperti yang ada difikiran anda.

Anda harus ingat dalam bisnis retail barang yang anda beli bisanya costnya hanya 30% jadi kalau potongan hingga 70% berarti Retailer menjual dengan harga cost. Kalaupun ada barang yang dijual hingga 80% berarti barang tersebut barang tersebut adalah koleksi 2 musim sebelumnya, cuci gudang, broken size alias ukuran yang tersedia bukan ukuran popular lagi biasanya ukuran paling kecil atau ukuran paling besar, kalau anda mau berlelah-lelah untuk meneliti pasti ada cacatnya mungkin akibat disimpan di gudang terlalu lama. Jadi sangatlah tidak mungkin jika Retailer menjual dengan potongan hingga 90% apalagi jika barang tersebut barang baru.

Mungkin karena hampir setiap bulan Midnight Sale diselenggarakan berbagai mall di Jakarta ditambah tidak ada keistimewaan lain selain menambah waktu operasi mall 2 jam saja, barang yang di-sale itu-itu saja. Syukur-syukur kalau masyarakat sudah pintar, ngapain capek-capek ngantri di Midnight Sale ? Lagi pula kebanyakan Midnight Sale diadakan  pas tanggung bulan dimana persediaan dana masyarakat sudah menipis. Midnight Sale kan cuma akal-akalan Pengelola Mal atau Retailer untuk meningkatkan jumlah kunjungan dan menaikan sales terutama pada saat penjualan sedang menurun meski dengan iming-iming gratis parkir. Tapi nampaknya popularitas Midnight Sale pun sudah mulai menurun. Hmmm.. good!

Setelah anda baca artikel ini, masih juga mau tetep ngantri di acara Midnight Sale ?

12
Aug
10

Karena kita peduli …

Hari ini saya belanja di Hypermart. Belajaan saya tidak banyak hanya menghabiskan Rp.265.021, sayapun membayar dengan tunai sebesar Rp.300.000 berarti saya mendapat kembali 34.979. Sama seperti kepada pembeli sebelum saya, si kasir bertanya :

Apakah kembalian yang sembilan ratus ribu tujuh puluh sembilan rupiah akan disumbangkan ?” tanyanya sopan. Kontan saya bertanya :

“Disumbangkan kepada siapa?”

“Kaum dhuafa” jawabnya.

“Apakah benar disumbangkan ?”

“Benar, Pak ! Ini program tahunan kami “. Saya makin mengeryitkan alis karena baru kali ini saya mendengar ada program ini. Saya akui saya jarang berbelanja di Hypermart tapi mendengar ada program ini sudah dilakukan bertahun-tahun tapi kok saya sebagai masyarakat tidak pernah mendengar ada program ini ya di Hypermart.

“ Baik. Tapi disumbangkan ya ?”

“ Insya Allah, Pak “

Saya tergelitik untuk membahas ini diblog saya, pembicaraan tadi membuat saya bertanya apa benar perusahaan sekelas PT. Matahari Putra Prima, Tbk sengaja mengambil dana dari masyarakat dengan memanfaatkan momen puasa dimana semua manusia terutama kaum muslim ingin berbagi kepada sesamanya ? Apakah benar Matahari Putra Prima menyalurkan dana dari umat ini untuk kaum dhuafa seperti dikatakan kasir tadi ? Tanpa bermaksud suudzon, saya jadi teringat Film Televisi yang semalam ditayangkan di SCTV berjudul “Kenun”. Dia ketemu preman berbaju muslim bernama Bang Murtad dimana dia mengerahkan anak-anak jalanan yang dilengkapi baju muslim seperti kopiah dan baju koko warna putih. Bang Murtad memanfaatkan dana umat untuk kepentingannya sendiri. Dia tahu bagaimana memanfaatkan niat orang-orang untuk menyumbang mesjid atau kaum duafa.

Kembali ke topik Hypermart tadi jika kita berani berkalkulasi, andai saja pembeli Hypermart rata-rata per hari 10.000 orang dengan jumlah sumbangan sebesar Rp.500 dalam 30 hari Hypermart mengumpulkan dana dari umat sebesar Rp. 150 juta, itu baru 1 toko. Jumlah gerai Hypermart di Indonesia adalah 47 buah berarti dalam sebulan Hypermat mengumpulkan dana umat sebanyak Rp. 7 Milyar ckckckckck…. Kalaupun benar disalurkan karena angkanya bukan angka kecil, mestinya Hypermat berani mengumumkan lewat media bukan sekedar pengumuman di outlet Hypermart saja. Dan dana tersebut tidak boleh disalurkan lewat program Corporate Sosial Responsibilty (CSR) perusahaan. CSR harus menggunakan dana perusahaan sendiri tidak boleh menggunakan dana umat.

Sebagai konsumen mestinya kita harus pintar, ingat tidak ketika dulu supermarket dengan seenaknya memberi permen sebagai pengganti kembalian ang receh. Dikalkulasi gimanapun tetep saja membayar dengan permen jauh menguntungkan si supermarket tersebut. Untung waktu itu Pemerintah mulai menertibkan dengan melarang semua penjual mengganti kembalian recehnya dengan permen.  Namun nampaknya kasus seperti ini terulang lagi. Dengan memanfaatkan momen puasa dimana semua muslim ingin berbuat baik bagi sesama. Apa bedanya Hypermart dengan Bang Murtad ? Kenapa saya berani bilang begitu karena saya tidak melihat satu cuilpun pengumuman tentang ajakan menyumbangkan recehnya buat sesama dan penjelasan kemana uang itu akan disalurkan. Harusnya pada akhir periode pengumpulan dana umat tersebut Hypermar mengumumkan ke khalayak melalui iklan berapa uang yang terkumpul dan kemana uang tersebut disalurkan karena uang yang terkumpul bukan uang sedikit.

Ada baiknya Pemerintah melalui Departemen Sosial mengawasi organisasi seperti Dompet Dhuafa, Rumah Yatim, Pundi Amal SCTV, Program Kita Peduli Indosiar, Program Peduli RCTI dsb. Dan ada baiknya program-program peduli tersebut diaudit oleh Akuntan Public dan diumumkan di media  nasional. Dengan demikian selain Depsos ada kerjanya, masyarakatpun merasa aman kalau berniat menyalurkan sebagian infaknya kepada organisasi terpercaya.

Kenapa sih saya musti ribet-ribet ngurusin masalah receh ini ? Bukan soal receh atau uang besar tapi hal-hal kayak gini berpotensi korupsi. Kita mungkin masih ingat bagaimana Gayus dkk mengambil uang yang setengah mati kita kumpulkam lewat pajak ! Betapa sakitnya mendengar Gayus mampu mengumpulkan kekayaan sampai 147M.

Setujukah anda dengan pendapat saya ?

07
Aug
10

Social Media kembali menunjukan kekuatannya

Masih ingat dengan fenomena “Keong Racun” ? Lagu tarling yang mungkin diciptakan di sebuah dusun terpencil oleh seorang pengarang dangdut koplo bernama Buy Akur  yang tidak menyangka lagunya bakal meledak. Sama halnya dengan sang penyanyi asli yang bernama Lisa sama sekali tidak menyangka bahwa lagu dengan syair kocak itu bisa menjadi perhatiannya dunia khususnya masyarakat Indonesia.

Yang menarik lagi, “Keong Racun” menjadi trend topic tertinggi dijagat Twitter dalam beberapa minggu. Semua orang mencari apa sebenarnya Keong Racun yang menjadi topik dimana-mana. Adalah 2 orang gadis belia asal Cimahi bernama Sinta dan Jojo yang membuat lagu itu jadi disukai dimana-mana. Awalnya lagu itu sempat merebak di segala sudut Kota Bandung. Lagu Keong Racun menjadi lagu wajib para pengamen jalanan hingga kafe dangdut dan karaoke-karoke di sana. Namun berkat keisengan Jojo dan Sinta yang merekam lenggak-lenggoknya di Youtube yang membuat lagu itu mendapat perhatian seluruh masyarakat Indonesia.

Gayanya sih biasa, tidak seronok bahkan jauh dari kesan porno sangat khas ABG Narcis. Lucu menggemaskan itu kesan yang muncul ketika melihat Youtube itu ditambah lagunya yang jenaka dengan syair nakal, lengkaplah sudah. Youtube itu menjadi pembicaraan di dunia maya, sebanyak 2.831.766 orang datang berkunjung ke linknya : http://www.youtube.com/watch?v=VKP1t3gQ_o0&feature=related. Tak pelak lagi lagu Keong Racunpun di-remake dengan gaya rock oleh Charlie ST12 dengan dua penyanyi seksi bernama Putri  dan Penelope. Meski hasilnya tidak semenarik lagu asli yang dinyanyikan oleh penyanyi bernama Lisa yang tidak mendapat apa-apa atas kepopuleran lagu itu. Apa khabar Sinta dan Jojo setelah media konvesional melansir kelucuan 2 gadis itu, mendadak nama keduanya meroket bak meteor, diinterview berbagai media termasuk televisi, Sinta dan Jojo pun jadi artis ngetop karena keisengannya. Mungkin Buy Akur sebagai pencipta lagu dan Lisa si penyanyi aslinya harus berterima kasih kepada keduanya.

Sekali lagi kekuatan social media seperti Youtube, Twitter dan Facebook jangan dianggap enteng. Social media bahkan menjadi sumber berita bagi media konvesional seperti koran, majalah dan televisi. Bahan televisi terutama program berita memanfaatkan social media untuk mendapat masukan dari pemirsanya. Coba perhatikan  hampir semua televisi punya account di Twitter bahkan facebook untuk mendapat tanggapan langsung dari masyarakat tentang topik yang sedang hangat dibicarakan. Social media bahkan memiliki kecepatan dan keakuratan sebuah berita seperti halnya situs berita detik.com, vivanews.com atau antaranews.com yang menyajikan sebuah berita hanya dalam hitungan detik.

Mungkin anda masih ingat dengan “Koin untuk Prita Mulyasari” yang disusul dengan “Koin Cinta Bilqis” yang mampu mengumpulkan uang koin sebanyak 1 M, lalu “Gerakan 1.000.000 Facebokers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto” hingga yang terbaru “Say No to Krisdayanti” dan berbagai gerakan masyarakat lainnya. Betapa mudahnya mencolek rasa kemanusiaan lewat dunia maya dan begitu mudahnya mendapat dukungan masyarakat lewat kekuatan social media. Kekuatan dan efek domino inilah yang seringkali dimanfaatkan agensi PR dan advertising untuk mengajak kliennya berkomunikasi dengan audiencenya. Cuma karena angle yang tidak menarik jarang keliatan hasilnya atau efeknya terhadap brand/produk kliennya.

Siapkah anda dan perusahaan dengan brand yang dimiliki ber-social media ? Pilih agensi PR atau advertising yang terpecaya dan mulailah berkomunikasi lewat social media, jangan remehkan!