Archive for October, 2010

23
Oct
10

Sinema 20 Wajah Indonesia dari Bakpao Ping-ping kita belajar cinta tanah air


Malam ini saya menonton Sinema 20 Wajah Indonesia dari Sukabumi saat berkunjung dan menengok buah hati saya. Ditengah udara dingin saya mencoba merangkum tayangan ini dan saya persembahkan untuk anda. A Seng (Fandy Christian) adalah generasi kesekian dari penjual bakpao. Mengambil gambar di Kota Singakawang, film ini memang memotret budaya tionghoa di kota Amoy tersebut. Film ini mengambil tema tradisi Kimpoi kontrak Amoy Singkawang dengan pria-pria Taiwan. Di Taiwan pria-pria Taiwan sangat sulit menemukan jodoh karena perempuan-perempuan Taiwan tidak ada yang mau menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya pria-pria mencari perempuan Singkawang yang terkenal cantik dan penurut untuk dijadikan istri kontrak. Para perempuan yang menikahi pria-pria Taiwan itu disebut Amoy.

Lani (Nenni Anggraeni) yang terlebih dahulu berhasil di Taiwan mendirikan Biro Kasmaran untuk menyalurkan perempuan-perempuan Singkawang ke Taiwan menemukan jodohnya. Dibantu oleh keponakannya A Seng, Lani melakukan pencarian. Apa (panggilan Ayah) yang diperankan dengan baik oleh Didi Petet menentang rencana A Seng untuk mengadu nasib di Taiwan. Apa yang besar kecintaannya pada tanah Singkawang terus bertengkar dengan anaknya. Apa yang memiliki luka masa lalu itu menentang orang-orang Singkawang mengadu nasib ke Taiwan termasuk Lani adiknya yang sudah berhasil menikahi seorang pria Taiwan kaya.

Banyak masyarakat tionghoa Singkawang berfikir bahwa Taiwan adalah tanah lelulur mereka namun perbedaan ekonomi yang jauh berbeda membuat banyak orang Singkawang bemimpi hijrah dan berbisnis di Taiwan.  Banyak masyarakat Tionghoa Singkawang hidup miskin sehingga Taiwan dianggap sebagai tanah impian namun karena Taiwan sudah menjadi negara maju, para pria Taiwan sulit menemukan calon istri yang penurut dan mau mengurus rumah tangga, itu sebabnya banyak pria Taiwan mencari Amoy ke Kota Singkawang.

A Seng memilih Ping-ping (Metta Permadi) sahabatnya sebagai calon Amoy meski belakangan A Seng yang diam-diam mencintai Ping-ping menyesalkan keinginan Ping-ping menjadi Amoy.  Rupanya sikap Apa yang menentang dan membenci Taiwan karena kemiskinannya yang pernah melilit kehidupan mereka menyebabkan dulu Apa ‘menjual’ istrinya menjadi Amoy ke Taiwan. A Seng akhirnya faham apa penyebab kebencian Apanya pada Taiwan. Abu Amanya yang dikirim bersama surat terakhirnya akhirnya disebar di Sungai Singkawang agar kembali bersatu dengan tanah kelahirannya. Kemiskinan memang menyakitkan, demikian kata mendiang Ama di suratnya. A Seng yang mencintai Ping-ping akhirnya berusaha mencegah kepergian Ping-ping yang bertekad menjadi Amoy ke Taiwan demi melepaskan hidup Ibu dan adik-adiknya dari kemiskinan. Ping-ping berharap dengan uang tebusan dari pria kaya Taiwan Ibunya bisa memulai bisnis kecil-kecilan dan menghidupi adik-adiknya yang banyak. Meski akhirnya Ping-ping melarikan diri dari Taiwan dan bekerja keras untuk mengumpulkan uang demi bisa kembali ke Singkawang.  A Seng memutuskan tetap hidup di Singkawang dan membesarkan warung bakpao Apanya yang kemudian dinamainya, Bakpao Ping-ping.

Singkawang memiliki potret kemiskinan panjang, sudah banyak para perempuan Singkawang mengadu nasib dan melepaskan diri dari kemiskinan dengan kimpoi kontrak dengan pria-pria Taiwan. Dan film Bakpao Ping-ping lewat skenario karya sahabat saya Lintang Wardhani mampu memotretnya dengan baik.

Sebenarnya film ini pernah juga ditayangkan oleh SCTV dengan judul berbeda, Wo Ai Ni yang diperankan oleh Leony dan sama seperti film ini, Wo Ai Ni dibesut oleh Viva Westi juga.

Bagaimana menurut anda tayangan Sinema 20 Wajah Indonesia kali ini ?

Pemain : Fandy Christian, Metta Permadi, Didi Petet, dra. Nenni Angraeni.

Sutradara: Viva Westi

Penata Sinematografi: Zoel F. Zolla,

Penata Artistik: Frans FX. Paat

Editor: St. Ahmad Idrus JM

Skenario: Lintang Wardhani

Advertisements
17
Oct
10

Eat, Pray, Love sebuah perjalanan hidup

Eat, Pray, Love: adalah kisah tentang pencarian seorang wanita dalam menyusuri kota di Italia, India dan Indonesia. Ini adalah sebuah memoar yang ditulis tahun 2006 oleh penulis Amerika, Elizabeth Gilbert. Memoar ini mengisahkan tentang perjalanan Gilbert di seluruh dunia setelah perceraiannya dan apa yang ingin ditemukan selama perjalanannya. Buku ini salah satu best seller di New York Times  selama 187 minggu (menurut Metacritic, organisasi yang mereview buku-buku favorit). Hak siar film  buku best seller ini dibeli oleh Columbia Pictures yang filmnya dibintangi aktris Amerika Julia Roberts, dirilis di bioskop Amerika tanggal 13 Agustus lalu. Gibert membuat sequelnya berjudul : Committed: A Skeptic Makes Peace with Marriage dipublikasikan oleh Viking pada Januari 2010. Buku ini menutup kisah hidupnya setelah Eat, Pray, Love.

Bercerita tentang seorang perempuan bernama Elizabeth Gilbert 32 tahun berpendidikan, punya rumah, suami, dan karier yang sukses sebagai penulis. Namun tidak dibarengi dengan kebahagiaan dalam mahligai rumah tangganya, dia  sering menghabiskan malam menangis di lantai kamarnya. Kemudian mempunyai affair dengan seorang pria ketika hidupnya sedang dalam kondisi terpisah dengan suaminya, kemudian mengajukan perceraian. Perselingkuhannya tidak berjalan lancar hanya meninggalkannya hancur dan sendirian. Ketika sedang melakukan perjalanan ke Bali untuk menulis tentang yoga, dia bertemu dengan seorang pria Bali bernama Ketut dan meramalkan suatu hari Liz akan kembali ke Bali. Setelah melewati proses perceraian yang sulit, dia menikmati sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan. Menghabiskan waktunya selama 4 bulan di Italia untuk merasakan makanan enak dan menikmati hidup, empat bulan di India untuk merasakan kekuatan doa dalam perjalanan spiritualnya hingga berlabuh di Bali untuk mencari ‘keseimbangan” hidup dan cintanya dari seorang pria pengusaha asal Brazil.

Columbia Pictures membuat versi film dengan judul yang sama dan dirilis pada tanggal 13 Agustus 2010 dibintangi Julia Roberts, James Franco, Richard Jenkins, Viola Davis, Billy Crudup, Javier Bardem , Sophie Thompson dan Christine Hakim bintang Indonesia.  Eat Pray Love mulai syuting pada bulan Agustus 2009. Film lokasi termasuk New York City (Amerika Serikat), Roma (Italia), Pataudi (India), dan Bali (Indonesia). Disutradari oleh Ryan Murphy, Skenario oleh Ryan Murphy dan Jennifer Salt serta diproduseri oleh Brad Pitt, Stan Wlodkowski dan Jeremy Kleiner.

Pemimpin spiritual Ashram sempat menyuarakan keprihatinan atas produksi film dan menganjurkan untuk penggunaan konsultan spiritual untuk memastikan bahwa film tersebut memberikan gambaran sesungguhnya dari kehidupan di Ashram. Dua aktor/aktris Indonesia yang ikut terlibat adalah Christine Hakim dan Hadi Subiyanto. Publik Amerika mengkritik tajam film ini, sebagian mengangap bahwa film ini sangat inspirational terutama bagi para perempuan Amerika, sebagian lagi menganggap bahwa ceritanya sangat narchist dan dangkal. Pada Internet Movie Database hanya publik perempuanlah yang lebih menyukai film ini ketimbang laki-laki.

Film ini selain mengekspos ketenaran Julia Robert, film ala Hollywood semacam ini sering kita jumpai dalam film-filmnya Jennifer Aniston. Tapi yang menarik adalah ceritanya, bagi saya adalah langkah untuk memperbaiki dirinya yang diambil sangat orisinil yaitu langkah bertahap yang terdiri dari Makan/EAT (belajar menikmati hidup), Doa/PRAY (belajar mendekatkan diri dengan Tuhan), dan Cinta/LOVE (keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan surgawi). Perjalannya diawali dengan merajut kegembiraan hidup di Italia dangan menikmati berbagai hidangan lezat khas Italia. Memang tidak salah bahwa orang Italia benar-benar tau cara menikmati hidup. Melakukan eksplorasi spiritual dan berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan di tempat yang terkenal sejak dulu sebagai pusat spiritual dunia yaitu India. Dan akhirnya di Indonesia tepatnya di pulau Bali, tujuan hidupnya ditemukan lewat keseimbangan dan juga pengalaman cinta yang sangat indah. Bagi siapa saja yang menginginkan perubahan yang mendasar dalam hidupnya film ini sangat layak ditonton.

Bagi anda yang sudah baca buku Eat, Pray, Love siap-siap untuk sedikit kecewa karena membaca bukunya lebih menyenangkan dibanding menonton filmnya. Kalo di bukunya pembaca bisa merasakan kepahitan yang dirasakan Liz tapi di filmnya kok saya nggak merasakan itu ya ? Jujurnya aja filmnya monoton dan membosankan. Cuma kita penasaran aja karena sebagian besar syutingnya dilakukan di Bali ditambah Christine Hakim main disana. Sedikit bikin bangga paling tidak Indonesia akan merasakan dampak akibat promo gratis ini. Akan makin banyak turis dunia datang ke Bali untuk mencari keseimbangan hidup yaitu bagaimana membangun hidup yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan kebahagiaan surgawi.

Bagaimana menurut anda ?

16
Oct
10

MAK RASIDA, tentang benturan budaya

Seperti biasa, sehabis kondangan saya buruan nongkrong depan televisi hanya karena tidak ingin ketinggalan Sinema 20 Wajah Indonesia yang judulnya Mak Rasida. Seminggu sebelumnya thriller film ini sudah mengingatkan penonton SCVTV untuk tidak lupa menonton acara ini. Saya semakin ingin menontonnya ketika Aty Cancer adalah pemain utama Mak Rasida ditambah Enison Sinaro adalah sutradara FTV kali ini.

Ceritanya sangat sederhana, tentang benturan budaya generasi muda dengan generasi tua. Berlatar belakang budaya Sumatera Barat, ceritanya Mak Rasida yang sudah hidup menjanda diminta anak semata wayang, Rusdi diperankan oleh Hefri Olifian untuk tinggal di Jakarta bersama keluarganya yang sukses. Seperti masyarakat ‘urang awak’ kebanyakan setiap orang pergi ke Ibukota selalu dititipi oleh-oleh dari kampung untuk disampaikan kepada sanak saudaranya. Rusdi yang memiliki seorang istri seorang perempuan Indo-belanda bernama Nadine diperankan oleh Feby Febiola dan seorang putri bernama Mariska. Ketika si Emak sampai di Jakarta berbagai benturan demi benturan terjadi, Rusdi adalah potret generasi muda padang yang sudah mulai luntur budayanya. Rusdi sering kali memarahi Emaknya karena selalu menerapkan kebiasaan-kebiasaannya di kampung. Karena tahu anaknya tidak mengantar titipan orang dari kampungnya, dengan marah Mak Rasida mengantar sendiri semua titipan itu dengan membawa Mariska. Puncak pertikaian mereka adalah ketika Mariska sakit dan Mak Rasida mengobatinya dengan parutan bawang merah di keningnya persis seperti yang sering dilakukannya ketika Rusdi kecil dulu. Dengan marah Rusdi melarang Emaknya menjaga Mariska lagi. Penuh kecewa Mak Rasida pulang kampung dengan menitip surat untuk Rusdi. Di suratnya Mak Rasida bercerita bahwa ternyata dia tidak sanggup untuk tinggal berlama-lama di rumah anaknya. Mak Rasida berkata bahwa apa yang dilakukan pada cucunya adalah hal yang biasa dilakukan di kampung bahkan hal itu juga dilakukan pada Rusdi semasa kecil namun semua itu tidak apa-apa buktinya Rusdi bisa meraih gelar sarjana. Jadi apa salah dengan semua kebiasaan itu jika dilakukan di jaman modern seperti sekarang ini ?

Film ini memotret kondisi sosial masyarakat kita saat ini terutama dengan budaya ‘urang awak’. Mak Rasida yang mewakili generasi lama harus berbenturan dengan generasi muda yang jauh lebih modern yang diwakili oleh Rusdi. Meski kekeluargaan masyarakat padang dikenal sangat kental namun budaya mempererat siraturahim nampaknya sudah mulai luntur. Jurang yang dalam antara si kaya dan si miskin sudah memisahkan rasa kekeluargaan antar masyarakat sekampung. Rusdi potret masyarakat padang yang tinggal di Jakarta jauh lebih modern, berpendidikan tinggi dan berhasil. Tapi apa salahnya jika tetap mempertahankan budaya lama yang rasanya masih pantas jika dipertahankan ? Sebenarnya ada sosok Pak Husein yang diperankan oleh Dedy Mizwar yang tidak digarap lebih serius. Sosok Pak Husein yang kaya dan nyetrik itu sempat mengingatkan bahwa keberhasilannya yang dinikmatinya saat ini salah satunya karena doa ibunya yang sayangnya tidak pernah menikmati keberhasilan itu. Sayang film Mak Rasida berakhir seperti sinetron pada umumnya, mudah ditebak endingnya. Rusdi, Nadine dan Mariska menyusul Emak ke Bukit Tinggi, Rusdi dan Nadine bersujud di kaki Ibunya sambil minta maaf.  Sebuah ending yang mampu menguras air mata memang tapi harusnya bisa lebih dari itu. Saya melihat film Mak Rasida sangat lemah dalam skenarionya (karya Alakdri Johan) meski digarap apik oleh Enison Sinaro, dari awal terasa sangat lamban dan membosankan padahal akting  Aty Cancer bisa dieksplor lebih. Apapun penilaian saya, Film Mak Rasida cukup menghibur dan mampu menguras air mata saya karena ingat Ibu saya.

Aty Cancer adalah idola saya sejak dulu. Aktris yang lahir di Lampung tanggal 10 Juli, 61 tahun lalu ini sudah berkarya di dunia film dan sinetron sejak tahun 1971 dalam Film Dunia Belum Kiamat. Peran-peran sebagai orang miskin sangat cocok diperankan olehnya. Film lainnya seperti Malin Kundang (1971), Mantili Si Pembunuh (1972), Potret (1991), Untuk Rena (2006), Fiksi (2008), Mati Suri (2009), Emak Ingin Naik Haji (2009). Dan film terakhirnya Aty Cancer meraih aktris terbaik dalam Indonesia Movie Award 2010 mengalahkan Atiqah Hasiholan (JAMILA DAN SANG PRESIDEN), Fanny Fabriana (HARI UNTUK AMANDA), Leony VH (IDENTITAS) dan Tika Putri (QUEEN BEE). Penghargaan sebagai pemeran utama terbaik tersebut adalah penghargaan pertama selama ia terjun ke dunia layar lebar.

Enison Sinaro adalah sutradara senior dan pengajar D3 dan S1 FFTV-IKJ dari tahun 2003 hingga sekarang. Lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, menyelesaikan pendidikannya pada jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta tahun 1983. Waktu masih di IKJ, Enison pernah meraih Juara II Sayembara Film Mini DKJ tahun 1980 dan Juara Harapan pada tahun 1982. Film-film hasil garapannya diantaranya, Mekar Diguncang Prahara (1987), Kecil-kecil Jadi Pengantin (1987), Siluman Kera (1988), Lupus III (1989), Boneka dari Indiana (1990), Oeroeg (1992), Long Road To Heaven (2007). Belum lagi sinteron yang berhasil dibuatnya diantaranya, Di Bawah matahari Bali (1992), Parmin (1993), Menghitung Hari (1995), Surau Air Hangat (1995), Hau Ema Timor (1995), Anakku Terlahir Kembali  (1996-1997). Hingga kini Enison masih aktif berkarya.

Semoga pendapat saya tidak menyurutkan anda untuk tetap menonton Sinema 20 Wajah Indonesia yang memotret kekinian masyarakat Indonesia.

15
Oct
10

FILM MADAME X YANG CUKUP MENGHIBUR

Film ini cukup menghibur. That’s it ! Gak ada keistimewaan lain selain sepanjang film kita disuguhi hiburan penuh tawa. Di awal cerita memang disebutkan bahwa cerita ini datang dari negeri antah berantah sehingga tidak ada seorangpun boleh komplen dengan cerita penuh sindiran pada keadaan sosial negeri kita ini.

Adegan diawali dengan berbagai adegan dan chameo kaum waria, pantas film ini tidak disukai komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender) terutama waria karena ceritanya mengekplotasi kaum marjinal itu. Dari mulai gaya Djoko Anwar yang berakting total sangat ‘waria’ ditambah Aming yang emang gaya Madame X gaya dia banget. Sepanjang cerita kita disuguhi dengan berbagai adegan lucu, film ini merupakan gabungan film fantasi ala superhero dengan kehidupan waria sehari-hari. Dipilihnya setting cerita kaum waria memang untuk membuat film ini berasa ringan, nggak susah dicerna dan cukup menghibur. Tapi jangan salah karena terlalu mengekploitasi kelucuan kaum waria tidak salah jika menimbulkan sikap antipati kaum waria pada Film Madem X. Nia Dinata  dan Lucky Kuswandi sah-sah saja memotret kekinian kaum banci sebagai latar belakang film ini karena mereka mengejar unsur komersil, bagaimana penonton yang sudah berupaya menonton film itu terpuaskan. Namun tidak salah juga jika kaum LGBT marah.

Film ini sengaja menyindir kondisi sosial masyarakat kita bagaimana kaum marjinal ini selalu bulan-bulanan padahal mereka begitu untuk bertahan hidup. Film ini terasa sangat trendi karena belum lama ini FPI berdemo di Gothe Institute dan CCF melarang pemutaran Q Film Festival (Festival yang memutar film bertema gay dari seluruh dunia) jadi pas banget sama ceritanya.

Film ini bercerita bagaimana Kelompok “Bogem” sebuah ormas homophobia berlaga ala penegak hukum yang tidak menyukai keberadaan kaum waria. Adam yang diperankan oleh Aming dan sahabatnya yang diperankan dengan sangat ‘waria’ oleh Djoko Anwar beserta teman-teman waria dendong digelandang dan diculik oleh ormas itu. Akhirnya Adam terdampar di sebuah kota yang jauh dari Ibu Kota. Adam diselamatkan oleh sepasang gay Om Rudi dan Tante Yantje yang diperankan oleh Roby Tumewu dan Ria Irawan serta mendidiknya untuk menari di padepokannya.  Pasangan inilah yang mendidik Adam menjadi seorang superhero banci, Madame X untuk memberantas kejahatan di negeri itu. Dengan kelihaiannya menari dikombinasi ilmu bela diri, Adam yang awalnya menolak menjadi superhero ciptaan Om Rudi ini akhirnya menerima juga ketika padepokan itu diserang kelompok “Bogem” dan anggotanya diculik oleh antek-antek Kanjeng Badai diperankan oleh Marcell Siahaan sang calon presiden yang ternyata ketua ormas “Bogem” itu. Belakangan baru diketahui bahwa Kanjeng Badai adalah sahabat kecilnya Adam yang berubah menjadi seorang homophobia karena pernah disakiti Ayahnya karena pergaulannya dengan Adam ketika itu. Sang ayah mencambuknya hingga meninggalkan sayatan berbentuk tanda “X”. Kesan mendalam dengan sahabat kecilnya dulu akhirnya mengilhami dirinya memberi nama Madame X.

Yang pasti film ini bertabur ini bintang, ada Vincent Club 80’s, Shanty, Titi DJ, Ria Irawan, Roby Tumewu, Djoko Anwar, Fitri Tropika dsb. Berbagai idiom yang  lagi ‘in’ di masyarakat dan berbagai bahasa binan diucapkan dengan sangat fasih seperti nightclub bernama “Gedong Endang” yang artinya “Gede Enak” menimbulkan gelak tawa sepanjang film berlangsung.Kelucuan-kelucuan Sarah Sechan, Shanty dan Titi DJ yang berperan sebagai istri-istri Kanjeng Badai merupakan daya tarik tersendiri bagi film ini.

Sekali lagi film ini tidak meninggalkan kesan apa-apa selain lucu. Disutradarai oleh sutradara muda, Lucky Kuswandi. Lucky Kuswandi adalah sutradara pendatang baru berpotensi, memulai debutnya dengan membuat film pendek bertema gay, filmnya meraih banyak penghargaan di berbagai ajang festival film pendek dunia berjudul “Still” (2006) kemudian film dokumenter berjudul “ At Stake” (2008). Nia Dinata akhirnya bersedia memproduseri film karya rekaan Aming ini setelah sempat bekerja sama dengan Lucky dalam menggarap film pendek “At Stake”.

Meski biasa saja namum film ini benar-benar menyuguhkan tontonan segar, pantaslah jadi pengisi liburan anda hari ini. Asal jangan ekspektasi terlalu tinggi ya, meski diproduseri oleh Kalyana Shira Film nggak berarti berkualitas seperti film Nia Dinata yang lain.

Pemain : Aming, Marcell, Shanty, Sarah Sechan, Titi Dj, Joko Anwar, Vincent, Fitri Tropica, Ria Irawan, Robby Tumewu, Ikhsan Himawan, dan Saira Jihan.

13
Oct
10

Film Box Office Cina : Aftershock dimata saya

Film ini sangat sayang anda lewatkan, seorang sahabat bertutur tentang kehebatan film ini membuat saya berburu DVDnya dan benar saja tidak mengecewakan. Ditengah kesibukan saya mempersiapkan bahan seminar saya bisa sempat membuat resensi film ini.

Sebenarnya film ini sangatlah sederhana secuil cerita berlatar-belakang bencana gempa bumi yang terkenal berkekuatan 7.8 richter melanda sebuah desa kecil bernama Tangshan di Propinsi Hebei Cina di tahun 1976 yang menghancurkan kota kecil dan 240.000 penduduknya menjadi korban.

Bercerita tentang kisah seorang ibu, Yuan Ni, dan kedua anak kembarnya Zeng Fang dan Fang Da dan bagaimana hidup mereka berubah selamanya oleh gempa di  pagi hari bersejarah di awal tahun 1976 itu. Ketika gempa terjadi Yuan Ni dan suaminya sedang berada di luar apartemennya. Suami istri itu melihat dengan tangis bagaimana bangunan itu runtuh dan kedua kembarnya terjebak di dalamnya. Kedua anak umur tujuh tahun terkubur di bawah reruntuhan gempa bumi dahsyat itu. Ketika Tim penyelamat bermaksud menjelaskan kondisi kedua korban, Yuan Ni dihadapkan pada pilihan sulit, harus menyelamatkan yang mana karena  keduanya terhimpit reruntuhan bangunan yang bisa mengorbankan salah satunya. Yuan Ni dihadapkan pada keputusan yang paling sulit dalam hidupnya, ia akhirnya memilih untuk menyelamatkan anaknya Fang Da, si kembar laki-laki. Keputusan yang kemudian mengubah kehidupan mereka kelak.

Luka Berkepanjangan

Keputusan Ibunya yang memilih Fang Da menorehkan luka yang berkepanjangan bagi Zeng Fang yang ternyata masih hidup. Dengan gambar bersuasana buram, diantara mayat-mayat bergelimpangan dan diantara tumpahan darah serta germis hujan, Zeng Fang bangun dan berjalan mencari sosok ibunya. Zeng Fang yang terdampar di tempat penampungans sementara akhirnya diadopsi oleh sepasang tentara yang hingga akhir khayatnya tidak pernah dikarunai seorang anak. Zeng Fang yang terluka akhirnya memilih diam seribu bahasa dan berusaha untuk melupakan dan tidak pernah mau mengingat pada kenangan buruk itu. Bukan saja karena bencanan itu telah membuat banyak orang mati termasuk ayahnya tapi keputusan Ibunya unttuk menyelamatkan adik laki-lakinya adalah keputusan yang sulit diterima.

Zeng Fang pun menjadi gadis interovert dan hidup dalam tekanan yang luar biasa. Sementara tanpa diduga anak perempuannya hidup bersama keluarga barunya, Fang Da hidup bersama ibunya yang tetap memilih tinggal di kota itu. Meski dihadapkan pada berbagai masalah menjadi orang tua tunggal dengan anak laki-laki yang bermasalah di sekolahnya. Yuan Ni pun sama hidup dengan perasaan bersalah berkepanjangan karena suami dan anak perempuannya menjadi korban gempa itu.

32 tahun kemudian setelah kedua anak kembar tersebut menjalani kehidupannya sendiri-sendiri, Zeng Fang sudah menjadi dokter dan hidup di Kanada bersama suami bulenya dan anaknya sedang Fang Da sudah memiliki perusahaan dengan banyak karyawan, pindah ke kota besar dan sudah mampu membelikan Ibunya sebuah apartemen. Ketika kota Sichuan dilanda gempa yang sama tahun 2008, keduanya tergerak datang untuk datang menolong mengingat keduanya pernah menjadi korban gempa yang sama. Keduanya bergabung bersama para relawan yang lain.

Pertemuan tak terduga

Fang Da bercerita pada teman sesame relawannya tentang pengalamannya dimasa kecil dimana kakak dan ayahnya menjadi korban bencana gempa di Desa Tangshan. Tak disangka kakak perempuannya yang sudah 32 tahun tak pernah bertemu bahkan disangka sudah meninggal berada diantara para relawan dan hanya bisa menangis mendengar bagaimana Ibunya begitu merasa bersalah berkepanjangan.

Singkat cerita, Zeng Fang dipertemukan dengan ibunya yang tidak pernah berhenti menangisi kepergian anak peremuannya meski itu sudah 32 tahun berlalu. Sungguh pertemuan yang sangat mengharukan. Yaun Ni yang merasakan keputusannya adalah sebuah kekeliruan meminta Zeng Fang memaafkan atas keputusan itu. Zeng Fangpun bercerita 32 tahun adalah waktu yang lama untuk melupakan keputusan Ibunya untuk mengabaikannya. Namun keputusan Tuhan memang tidak diduga seperti apa akhrinya.

Film yang disutradarai oleh Feng Xiaogang dan diproduksi oleh studio Bros Huayi Ini telah menghasilkan 532 juta yuan ($ 78,6 juta) sejak dirilis 22 Juli 2010. Dan mnjadikan film inmi meraih penjualan tertinggi  di Cina Ini padahal film drama dibuat dengan biaya kurang dari $ 25 juta. Para aktor dan aktris Cina Jingchu Zhang, Daoming Chen, Yi Lu, Fan Xu, Jin Chen dan Chen Li aktinganya sangat memukau apalagi dengan penataan musik yang apik karya Li-guang Wang membuat film ini mampu mengharu-biru penonton.

Sebuah tayangan film yang layak tonton.


Credit Title :

Pemain: Jingchu Zhang, Daoming Chen, Yi Lu, Fan Xu, Jin Chen, Chen Li
Sutradara: Xiaogang Feng
Durasi: 139 min
Bahasa: Mandarin
Penata Kamerra: Yue Lü
Penata Music: Li-guang Wang
Editor: Yang Xiao
Penata Design: Tingxiao Huo


09
Oct
10

Sinema 20 Wajah Indonesia : Ulos Simalakama sangat terasa ‘Batak’nya

Kembali Sinema 20 Wajah Indonesia menunjukan kekuatannya, setelah penayangannya ditunda dengan berbagai alasan akhirnya Ulos Simalakama diputar semalam (9//10). Kali ini sangat kental budaya Bataknya, dari mulai pengambilan gambar yang sebagian besar dilakukan di di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara  hingga jalan cerita, konflik dan alur ceritanya.

Film Ulos Simalakama ini menceritakan kisah seorang ibu bernama Ibu Togar diperankan Betsy R Tarigan SH yang menenun sehelai ulos paropa untuk cucu pertamanya dari anak laki-lakinya bernama Togar (Yama Carlos). Togar, seorang mahasiswa jurusan antropologi yang tengah menyelesaikan skripsi tentang fenomena pekerja seks komersial di Jakarta. Secara tidak sengaja, Togar meminjamkan ulos Parompa kepada Sumi, seorang pelacur. Padahal ulos tersebut diniatkan ibunda Togar untuk cucu pertamanya kelak. Persahabatan Togar dan Sumi berlanjut hingga suatu hari ibu Togar sakit keras, dan menjodohkan Togar dengan Saida sebelum beliau menghembuskan napas terakhir di kampung. Setelah berhasil menyelesaikan skripsi dan lulus, Saida bertanya perihal ulos parompa pemberian Ibunya. Togar lantas mengambil ulos yang dia pinjamkan kepada Sumi. Namun pertemuan yang diniatkan untuk terakhir kalinya itu ternyata justru awal dari bencana bagi Togar. Pertemuan singkat antara Togar dan Sumi membuat keduanya larut dalam kesenangan duniawi. Sumi akhirnya hamil dari benih Togar dan memilih untuk memelihara anak Togar.  Pernikahan Togar dan Saida menghasilkan tiga orang putri yaitu Tiara, Sauli, dan Duma. Sementara anak Togar yang lahir dari rahim Sumi diberi nama Chandra. Waktu berjalan, 17 tahun kemudian Tiara dan Chandra menjadi sepasang sahabat dan menuntut ilmu di sekolah yang sama. Togar adalah direktur sekolah tersebut, dan belakangan baru tahu kalau Chandra adalah anak Sumi. Togar yang berusaha memisahkan Tiara dari Chandra, mau tak mau terpaksa harus mengontak Sumi untuk mencari jalan keluar. Sumi yang kini jauh lebih mandiri dibandingkan 17 tahun yang lalu mengatakan bahwa yang bisa memecahkan masalah tersebut adalah Togar sendiri. Masalah bertambah rumit karena pada akhirnya Togar harus memilih untuk menceritakan hal itu kepada Saida, sebagai cara untuk menebus kesalahan dia di masa lalu. Kejujuran Togar tentu saja membuat Saida murka. Setelah bergumul dengan emosinya, Saida akhirnya bisa berdamai dengan keadaan. Secara mengejutkan, Saida malah menyarankan Mangulosi yaitu pemberian ulos kepada Chandra, sesuai amanat ibunda Togar yang ingin agar ulos parompa diberikan kepada cucu pertamanya yang justru adalah Chandra.

Film yang ditulis dan disutradari oleh Edward Pesta Sirait seorang sutradara senior berusia 68 tahun ini film-filmnya banyak dibuat pada era tahun 80an. Edward mulai menulis cerita ini tahun 1984 setelah mengalami banyak revisi akhirnya selesai juga bulan April 2010. Sutaradar yang lahir di Tapanuli, 7 Agustus 1942 adalah seorang sutradara drama film Indonesia yang membuat banyak aktris menjadi nominasi di Festival Film Indonesia, aktris Ita Mustafa menjadi pemenang dalam film “Gadis Penakluk” melalui film yang disutradarainya. Selama kariernya sebagai sutradara, ia sempat dinominasikan dalam Festival Film Indonesia, melalui film Gadis Penakluk, Bukan Istri Pilihan, dan Bila Saatnya Tiba.

Selain mengalamai banyak revisi film Ulos ini mengalami pergantian judul berkali-kali, sebelum menjadi Ulos Simalakama, Doa Seorang Ibu kemudian berubah menjadi Ulos Paropa dan akhirnya diputuskan berjudul Ulos Simalakama.

Aktor ganteng Yama Carlos yang aktingnya dinilai banyak kalangan mulai matang di film ini harus beradu akting dengan aktris berbakat pendatang baru bernama Gea d’Syawal, menurutnya jika tak mengenal budaya Batak, pasti akan kewalahan berhadapan dengan budaya tersebut. Banyak aturan adat yang mengikat dan mengaturan kehidupan. Jika tak bijaksana  maka akan terjebak dalam konflik. Bahkan masalahpun bisa muncul hanya karena selembar kain ulos. Bagi orang Batak, ulos bukan sekadar kain tenun biasa. Apalagi Ulos paropa berarti doa seorang ibu dan Ulos Paropa  akan diberikan pada cucu pertama dari anak laki-laki.  Selain ceritanya yang menarik gambar-gambarpun bertutur sangat indah terutama pada penggambaran suasana alam Samosir yang terkenal. Film ini tersangat sangat khas Edward Pesta Sirait.

Sekedar mengingatkan kembali soal Edward Pesta Sirait debutnya dimulai di tahun 1976 ketika usianya menginjak 34 tahun dengan menggarap film Chicha, Ira Maya si Anak Tiri (1976), Gadis Penakluk (1980) yang mengantarkan Ita Mustafa meraih aktris terbaik di FFI 1980, tahun 1990 menggarap film Blok M dibintangi Paramitha Rusadi, Pesta (1991) dan yang terakhir Joshua oh Joshua ketika menginjat usia 49 tahun. Sekarang setelah sekian lama tidak menyentuh dunia film, Dedy Mizwar sebagai executive producer Sinema 20 Wajah Indonesia memilih Edward untuk membuat filmnya di FTV ini. Selaian karena sutradara gaek ini berdarah Batak juga karena pengalaman masa kecilnya sudah memberikan warna tersendiri bagi film Ulos Simalakala.

Sampai berjumpa di Sinema 20 Wajah Indonesia minggu depan !

Filmografi Edward Pesta Sirait :

02
Oct
10

Melihat Wajah ‘Asli’ Indonesia lewat Film Badik Titipan Ayah

Selalu tidak pernah menyesal menghabiskan waktu Malam Minggu di rumah dengan menikmati tayangan Sinema 20 Wajah Indonesia apalagi jika sutradara yang menggarapnya adalah Dedi Setiadi sutradara yang dikenal di tahun 1980an ketika sedang  jaya-jayanya TVRI.

Ternyata benar judul Film Televisi kali ini adalah Badik Titipan Ayah. Berlatar belakang masyarakat Bugis-Makassar tentang perjuangan mempertahankan harga diri keluarganya. Alkisah Karaeng Tiro (diperankan dengan baik oleh Aspar Paturusi) dan istrinya Karaeng Ca’ya (diperankan sangat cemerlang oleh Widyawati) dilanda prahara keluarga yang sangat memalukan yaitu anak gadis mereka Andi Tenri (Tika Bravia) kawin lari (silariang) dengan kekasihnya yang bernama Firman. Tenri yang terlebih dahulu hamil sebelum menikah ini berharap bahwa Teta (panggilan Ayahnya) akan menyetujui hubungannya dengan Firman. Namun sang Ayah yang tidak menyetujui hubungan mereka karena masa lalu yang tragis menimpa Keluarga Karaeng Tiro dan keluarga Firman meski hingga akhir cerita tidak pernah diceritakan tragedi apa sebenarnya. Teta yang marah karena anak gadisnya memilih kabur dari rumah, meminta anak lelakinya mencari mereka dan membunuhnya dengan badik warisan. Dalam adat Bugis bahwa jika ada salah satu anggota keluarga yang melempar aib hanya satu tebusannya yaitu perang badik. Anak lelaki yang diperankan oleh Reza Rahadian  berusaha memenuhi janji pada ayahnya dengan mengejar dan membuat perhitungan pada adik dan kekasihnya. Sebelum janji terpenuhi ternyata Teta meninggal dunia karena serangan jantung. Tenri dan Firman akhirnya kembali ke Desa Bira sambil membawa bayinya untuk memberi penghormatan terakhir kepada Teta meski dengan resiko akan terjadi pertumpahan darah.

Ketika badik Deang dan Firman saling terhunus, Tenri menghadang kakaknya dan siap mati demi mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Di depan jenasah Teta akhirya Ama (panggilan buat Ibu) berusaha melerai pertikaian dan bicara pada jenasah suaminya seraya meminta maaf jika kali ini dia membantah semua permintaan sang suami yang sudah 25 tahun lebih saling menjaga dan mencinta. Ama meminta agar semua pertikian ini berakhir sampai disini dan pertumpahan darahpun luput. Kemarahan Deang luluh begitu mendengar permintaan Ama dihadapan jenasah Ayahnya.

Berlatar belakang alam indah Kawasan Wisata Alam Bantimurung, Bulusaraung Sulawesi Selatan sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar untuk film televisi ini karena Bantimurung memiliki panorama alam yang spesifik dan khas. Ditambah sepanjang film penonton disuguhi akting hebat dari pemain senior seperti Widyawati dan Aspar Paturusi, yang di tahun 80an dikenal dengan peran-perannya sebagai Soeharto (mantan Presiden RI) apalagi akting Reza Rahadian (peraih piala Citra tahun lalu dalam Film Emak ingin naik Haji) menutupi akting pemain lain yang cenderung biasa banget. Yang terpenting dari film ini adalah alur cerita dan dialog-dialog yang indahnya terutama pada dialog penutup Widyawati ketika dihadapan jenasah suaminya membuat penoton meneteskan airmata. Sebenarnya budaya Makasar bukan hal baru baginya mengingat Sophan Sopian adalah aktor berdarah Makasar sehingga perannya sebagai Ama sangatlah tepat. Skenario yang ditulis oleh Taufik Daramin Tahir dan lewat tangan dingin Dedi Setiadi (sutradara kelahiran Sukabumi tanggal 26 Oktober) peraih piala Vidia FFI 2004 untuk Film Televisi berjudul Sendal Bolong untuk Hamdani yang di tahun 80an dikenal sebagai Sutradara Keluarga Cemara dasn beberapa film bagus lainnya di jaman itu. Film Televisi karya Dedi Setiadi : Rinduku Cintamu, Sandal Bolong untuk Hamdani, Jendela Rumah Kita, Siti Nurbaya, Keluarga Cemara, Ngaca Dong, Juki, Oom Pasikom, Kiamat Sudah Dekat 2, Apa kabar Bangsamu,Wagina Bicara, Menir si Proyek Gaga, Badik Titipan Ayah dan Putus Arang (Sinema 20 Wajah Indonesia), beberapa judul Serial Losmen dan Pondokan yang ngetop di tahun 80an.

Penasaran kan liat Sinema 20 Wajah Indonesia minggu depan ? Salut buat Dedy Mizwar sebagai Produser Citra Sinema yang membuat karya-karya FTV SCTV menjadi sangat ditunggu penggemarnya, termasuk saya!

Thriller Badik Titipan Ayah : http://simurl.us/XbOKg