Archive for November, 2010

06
Nov
10

Putus Arang, rasa sayang Ibu yang berlebihan

Mimi Sawitri (Yatie Surahman) adalah pemilik sanggar tari topeng Cirebonan yang terkenal dengan perannya sebagai ‘Calon Arang’ dan Pak Taha (Piet Pagau) adalah seorang saudagar perahu nelayan keturunan Bugis hidup berkecukupan dengan dua orang anak. Si sulung Yanti (Gina Gizrya) yang sudah menikah dengan seorang laki-laki yang diperankan oleh Agus Kuncoro yang sedang mengandung anak pertamanya dan Soni (Guntara Hidayat) anak bungsu yang paling disayang Mimi Sawitri.

Persoalan keluarga muncul ketika banyak keanehan di keluarga tersebut, misalnya Mimi yang tidak mampu membayar honor para penarinya hingga berbulan-bulan, mulai menggadaikan perhiasannya bahkan sering kehilangan uang di rumah yang menyebabkan Yanti dan suaminya kerap bertengkar. Rupanya baik Mimi maupun Yanti tanpa bercerita kepada suaminya masing-masing mengetahui bahwa Soni kecanduan narkoba, itu sebabnya uang di rumah seringkali hilang. Mimi selalu menganggap Soni adalah anak baik, penurut dan percaya saja ketika Soni blang sudah menjauhi narkoba.

Pak Taha mulai mengetahui bahwa istrinya sering meminjam uang pada rentenir, mulai melunasi hutang-hutang tersebut dan membayar utang pada para penari tanpa mengerti kemana larinya uang-uang itu. Namun demi melindungi anaknya dari amarah Mamaknya, Mimi menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.

Rahasiapun terbongkar, Pak Taha mulai mengerti dan Soni sudah berjanji pada keluarganya untuk sembuh dan menjauhi barang haram itu. Namun Soni tetap tidak pernah berubah, puncaknya ketika ‘sakau’ Sony melukai Yanti demi untuk mendapat perhiasan kakaknya yang akan dibelikan narkobanya. Kesulitan keluarga Daeng Taha menimbulkan perasaan iba Charli salah satu pegawainya yang paling setia. Charli akhirnya membunuh Soni dalam perang badik sebagai salah satu bentuk keprihatiannya pada penderitaan Daeng Taha. Baginya membunuh Soni adalah salah satu cara memutus tali penderitaan keluarga Taha. Soni dibunuh tepat di malam penganugerahan Bintang Mahakarya atas dedikasi Mimi Sawitri pada tarian topeng Cirebon.

Jujur saja di awal-awal film ini nyaris membosankan, memang tidak semenarik film-film Sinema 20 Wajah Indonesia lain, namun kepiawaian akting Yatie Surahman dan Piet Pagau sedikit mengobati kekecewaan ini. Banyak hal tidak masuk akal sehingga cerita terasa dangkal. Hampir tidak ada korelasi antara profesi Mimi Sawitri dengan anaknya yang menderita kecanduan narkoba. Saya tadinya mengira film ini menggali banyak dunia tari topeng sebagai sebuah seni yang masih hidup hingga kini di Cirebon. Peran Agus Kuncoro dalam film ini tidak menonjol, aktingnya tidak benar-benar digali. Sayang, meski film ini skenarionya ditulis oleh Arwendo Atmowiloto dan disutradarai oleh Dedy Setiadi, film ini kategorinya biasa-biasa aja.

Maaf tanpa manyurutkan semangat ke-Indonesia-an, Sinema 20 Wajah Indonesia kali ini tidak dapat pujian dari saya bahkan mungkin dari anda ? Terserah anda yang menilai …

 

 

 

 

 

Sutradara : Dedy Setiadi

Pemain : Agus Kuncoro, Yatie Surahman, Piet Pagau, Gina Gizrya, Guntara Hidayat

Penata Kamera : Gunung Nusa Pelita

Skenario : Aswendo Atmowiloto

Ide Cerita : Deddy Mizwar

Editor : Enjah Praboe

Produksi : SCTV & Citra Sinema 2010

Advertisements
06
Nov
10

“Rumah Pasir” Teater Koma, benarkah mulai tersisih trend drama musical ?

Setelah absen di 3 pertunjukan Teater Koma terakhir, saya akhirnya menyempatkan diri menonton pertunjukan Teater Koma ke-120 berjudul “Rumah Pasir” meski tanpa pemain favorit saya, Salim Bungsu. Untuk pertama kalinya juga saya bertandang ke Salihara tempat pementasan berlangsung, nice pleace, cozy, rasa penasaran saya makin hebat ngebayangin tata panggung Teater Koma yang biasanya penuh gimana setnya ya di Salihara ya ?

Kekecewaan saya datang menyergap begitu melihat set panggungnya yang sederhana banget, jauh dari kesan Teater Koma biasanya yang ‘wah’ di penataan panggungnya. Panggungnya atau tepatnya lantai karena Salihara tidak memiliki panggung diset sangat sederhana hanya 2 kain putih sebagai backdrop sekaligus media untuk multi media dan sebuah tower tinggi tempat para pemusik. Teater Komunitas Salihara memang tidak disiapkan bagi pertunjukan ‘wah’ ala Teater Koma. Teater Koma menyiasati keterbatasan ruangnya dengan cerdas yaitu dengan permainan multi media yang ditembakan ke layar putih yang sekaligus berperan sebagai backdrop.

Kesederhanaan panggung dan kedekatan jarak antara si anak panggung dan penonton serasa seperti mereka bermain di hadapan kita, begitu dekat sehinga kita bisa menikmati paras cantik Ratna Riantiarno dan Cornelia Agatha dengan sangat jelas. Kualitas akting yang prima para mainnya termasuk Cornelia Agatha menjadi daya tarik meski alur ceritanya sumpah mampus bosenin. Semua pengetahuan tentang AIDS dipapar dalam setiap dialog termasuk di layar sehingga drama ini seperti sebuah ceramah panjang yang membosankan. Untung kehadiran para imaji meski cuma sekedar tempelan yang kadang mengganggu sering membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkahnya yang kocak. Yang pasti senang adalah Baby Jim Aditya yang nonton di depan kursi saya, sebagai pemerhati masalah AIDS tentunya senang pengetahuan tentang AIDS ditampilkan oleh teater sekelas Teater Koma.

Lakon ini berkisah tentang seorang pengusaha muda petualang cinta, Leo Kastoebi (Budi Ros). Gaya hidupnya bebas, khas metropolitan. Dia terlibat asmara dengan banyak wanita. Dia tidak pernah memikirkan akibatnya, baik terhadap dirinya maupun orang lain. Cukup dengan satu perbuatan berisiko, hidup bisa berubah drastis. Dan, terkadang, akibat dari perbuatan berisiko itu tidak hanya ditanggung oleh seorang saja. Lalu, bagi yang terlanjur tak mampu menghindar, hidup bagaikan `rumah pasir? Setiap saat bisa tersapu ombak, lenyap tak berbekas.

Menonton ‘Rumah Pasir” seperti bukan menonton pertunjukan Teater Koma yang biasanya. Sejak didirikan tanggal 1 Maret 1977, di era tahun 80an dan 90an Teater Koma menarik perhatian penonton awam seperti saya. Pertunjukan teater yang cenderung membosankan disulap menjadi pertunjukan kolosal yang sangat menarik. Itu sebabnya di masanya Teater Koma tumbuh menjadi teater yang paling ditunggu pertunjukannya. Anda masih ingat pertunjukan-pertunjukan seperti : Rumah Kertas, Opera Kecoa, Opera Primadona, Sampek Eng Tay, Semar Gugat, Opera Ular Putih, Republik Bagong, Republik Togo, Republik Petruk dan Sie Jie Kwie, di semua pertunjukannya penontonnya selalu membludak. Teater Koma mampu menarik perhatian penonton awam dengan sebuah kualitas pertunjukan yang sekelas broadway, tata panggung yang heboh, tata rias dan busana yang edan, cerita yang menarik dan penuh sindiran terutama pada Opera Primadona. Teater Koma adalah fenomenal meski sudah mulai kehilangan gregetnya ketika Soeharto lengser karena sudah tidak ada yang disindir lagi.

Entah karena trennya yang berubah atau Teater Koma yang berubah, kenapa kualitas pertunjukan Teater Koma menurun ya di Rumah Pasir ini ? Apakah sudah kalah bersaing dengan tren drama musikal seperti “Rahasia Dua Hati – Diana” karya Garin Nugroho yang digelar di JCC dalam rangka HUT ke-45 Kompas pada tanggal 6 Juli 2010, “Gita Cinta” karya Ari Tulang dan Maera Hanfiah yang dipentaskan di JCC tanggal 23-25 Juli 2010 dengan harga tiket Rp.150.00-Rp.750.00,  “Onrop” pertujukan musical karya Djoko Anwar dan Afi Samara yang dipentontonkan di Teater Jakarta TIM tanggal 13-21 November 2010 dengan harga tiket dari Rp.250.00-Rp.550.00, dan “Laskar Pelangi” karya Riri Riza dan Mira Lesmana yang akan digelar tanggal 17 Desember 2010 – 9 Januari 2011 dengan harga tiket dari Rp.100.000 sampai Rp.750.000 dan masih banyak lagi seperti Jakarta Love Riot, Dream Girl bahkan Operet Bobo ; Monster Hiprokrito ? Jangan sampai begitu. Pertunjukan ke-120 adalah bukti konsitensi dan kualitas Teater Koma, coba nanti kita bandingkan dengan karya Riri Riza, Mira Lesmana dan Djoko Anwar yang baru mau coba-coba menggarap dunia pertunjukan meski lewat budaya pop yang ringan seperti drama musikal. Sudah waktunya Teater Koma lewat kepiawaian Sari Madjid sebagai produser berbenah dan mulai menyeleksi pertunjukan mana yang pantas dipentaskan. Pementasan di Salihara – tanpa bermaksud mengecilkan arti kehadiran Salihara – menunjukan Teater Koma sudah mulai tersisih. Sudah tidak lagi bermain di kelas gedung seperti GKJ atau TIM dengan pertunjukan yang glamour, ngepop dan menampilkan kekinian Indonesia.

Teater Koma sudah mulai kehilangan greget, buktinya dari tahun 1990an yang biasanya saya dan 20 orang teman-teman tidak pernah absen menonton Teater Koma, tadi malam cuma nonton berdua dengan sahabat saya. Sedang teman-teman bergaul saya sudah janjian untuk nonton Onrop dan Laskar Pelangi sebelumnya nonton Gita Cinta, Dream Girl dan Jakarta Love Riot.

Tapi kekecewaan saya terhibur dengan akting Rangga Riantiarno yang satu panggung dengan ibunya di pertunjukan kali ini, Rangga sudah mulai dipercaya bermain sebagai tokoh penting, paling tidak Teater Koma sadar harus mulai meregenerasi dengan menampilkan bakat-bakat muda yang kelak akan menggantikan posisi Budi Ros, Priyo S. Winardi dan Ratna Riantiarno. Kehadiran Cornelia Agatha yang kualitas akting makin matang, meski awalnya sempat dipertanyakan banyak orang mengapa Teater Koma mulai menyertakan ‘artis’ dalam pertunjukannya ? seperti saran saya, Teater Koma harus mulai berbenah diri, seperti mulai menggunakan jasa agensi PR seperti yang dilakukan Miles dalam Laskar Pelangi, memanfaatkan kepopuleran pemain seperti dalam Diana, Gita Cinta, Jakarta Love Riot dan memaksimalkan social media seperti facebook dan twitter sebagai bagian dari promosi pertunjukan. Jangan salah, banyak pesohor seperti Sarach Sechan, Uli Herdinansyah, Bayu Oktara, Arie Dagienk dsb melirik panggung teater setelah bosan berkiprah di layar lebar, manfaatkan ! Ini kan budaya Pop, Teater Koma harus mengikuti trend jangan sampai tergilas oleh trend-trend berikutnya.

Kabarnya Teater Koma akan mempertontonkan Pertunjukan “Sie Jin Kwie 2” di Graha Budaya Bhakti TIM bulan Maret 2011, kita lihat hasilnya ! Bangkitlah Teater Koma sebelum kami benar-benar meninggalkanmu… Tulisan ini adalah bukti kecintaan saya pada Teater Koma!

Produksi ke-120

RUMAH PASIR


Teater Salihara, Jl. Salihara No. 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

29 Oktober s/d 7 November 2010, 20.00 WIB s/d selesai

HTM: Rp. 100.000 (umum) dan Rp. 50.000 (pelajar, terbatas, hanya di Salihara)

Naskah dan Sutradara : N. RIANTIARNO

Asisten Sutradara : OHAN ADIPUTRA

Skenografi : TAUFAN S. CHANDRANEGARA

Penata Musik : FERRO

Penata Cahaya : DERAY

Penata Rias dan Rambut : SENA SUKARYA

Penata Busana : ALEX FATAHILLAH

Konsultan Akustik : TOTOM KODRAT

Pengarah Tehnik : TINTON PRIANGGORO

Pimpinan Panggung : SARI MADJID

Pimpinan Produksi : RATNA RIANTIARNO

Pemeran : BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, PRIJO S. WINARDI, TUTI HARTATI, RANGGA RIANTIARNO, NAOMI LUMBAN GAOL