Archive for April, 2011

19
Apr
11

5 Aksi Klik Hati terus dipantau aktifitasnya, siapakah berhak menjadi the Most Inspiring 2 ?

Aksi sosial kemanusiaan dewasa ini niscaya lebih efektif dengan memanfaatkan social media. Aksi sosial bisa semacam penggalangan dan penyaluran bantuan kepada korban bencana, kepada pihak-pihak terlantar yang tidak tersentuh tangan-tangan negara, atau aksi-aksi untuk mengatasi problem-problem sosial. Itu semua bisa dihela melalui social media yang kian beragam, seperti situs pertemanan atau sekedar forum berbincang di ranah maya. Kelebihan lain social media adalah praktis. Orang begitu mudahnya menyebarkan inspirasi, menggalang dukungan, merintis tindakan kemanusiaan, cukup dengan menuliskan status di Facebook atau berkicau di Twitter misalnya. Lontaran itu bisa terus menggelinding dan bergaung keras. Terlebih jika orang bersangkutan memiliki pengaruh besar di lingkungan social media.

 

PT Merck Tbk. menyadari perkembangan ini dan menjadikannya pertimbangan penting dalam mewujudkan kepedulian, tanggung jawab, dan kontribusi perusahaan terhadap lingkungan sekitar, lingkup kecil maupun besar. Menandai 40 tahun keberadaannya di Indonesia, perusahaan farmasi yang berbasis di Jerman ini pun meluncurkan program untuk mendorong maraknya aksi-aksi kepedulian dengan memanfaatkan social media.

Lewat Klik Hati, PT. Merck Tbk memberi apresiasi kepada individu atau komunitas yang sudah berjasa melakukan aksi sosial kemanusiaan melalui social media. Mereka, dengan tindakannya yang konsisten, sudah menimbulkan dampak luas. Setelah diluncurkan pada bulan Desember 2010, PT. Merck Tbk menerima 290 proposal, ribuan fans dan follower di social media. Dari 290 proposal juri memilih 10 finalis yang dinilai memberikan dampak positif dalam setiap kegiatannya. Merela dalah Indonesian Future Leader, Akademi Berbagi, Berbagi, Indonesia Berkebun, Yatim Online, PicnicHolic, Indonesia Kuno, Indonesia Bercerita, Fiksi Mini dan Bale Bengong. Klik Hati mengajak masyarakat memilih kegiatan sosial mana yang paling banyak diapresiasi dan tanggal 23 Maret 2011 diumumkan 5 finalis yaitu Indonesia Berkebun, Yatim Online, Indonesia Bercerita, Bale Bengong dan Akademi Berbagi. Kepada kelima finalis diberikan dana tunai masing-masing sebesar Rp.20 juta untuk dipakai bagi pengembangan program mereka dan mendapat dukungan sebanyak mungkin melalui social media. Dan selama 1 bulan dari 24 Maret hingga 24 April 2011, mereka melanjutkan aktifitas dan terus berkomunikasi lewat social media, kegiatan mereka terus dipantau aktifitas social medianya untuk akhirnya dipilih  The Most Inspiring 2 yang akan diumumkan pada tangga 24 Mei 2011. Kepada mereka masing-masing berhak mendapat kembali uang tunai sebesar Rp.40 juta untuk pengembangan kegiatan sosial mereka.

Setiap finalis berlomba mencari dukungan, meski kegiatan mereka sudah berjalan dan terus berjalan namun dukungan masyarakat lewat social media tetap dibutuhkan agar semakin banyak masyarakat terlibat dan kegiatan mereka terus menggurita. Hingga saat ini Indonesia Berkebun mendapat dukungan dari 134 orang, Yatim Online mendapat dukungan dari 530 orang, Indonesia Bercerita mendapat dukungan dari 637 orang, Bale Bengong mendapat 624 dukungan dan Akademi Berbagi mendapat dukungan dari 436 orang. Siapakah yang berhak mendapat tempat sebagai The Most Inspiring 2 ? Roby Muhamad dan dan Alissa Wahid, ahli di bidang komunikasi online, dan seorang penggiat gerakan sosial sebagai juri berkomentar bahwa gerakan-gerakan sosial dapat dicapai secara efektif dan mudah dengan meningkatkan penggunaan social media.

 

Ditunggu hasilnya pada acara penutupan dan penganugerahan The Most Inspiring 2 Aksi Klik Hati pada tanggal 24 Mei 2011.

Advertisements
12
Apr
11

Kegiatan Sosial Terbaik memanfaatkan kekuatan social media

Indonesia telah dipenuhi oleh banyak pahlawan, begitu banyak orang yang melewati hidupnya untuk orang lain. Berbagai penghargaan diberikan atas dedikasi mereka pada masyarakat banyak, ada Kick Andy Heroes Award atau CNN Heroes apapun itu semua untuk menghargai jiwa kepahlawanan mereka yang sungguh-sungguh mereka lakukan. Sekarang adalah lagi Klik Hati Award yang diberikan oleh PT. Merck tbk kepada mereka yang mendedikasikan dirinya untuk berbagai kegiatan sosial dengan memanfaatkan sosial media seperti facebook, blog, twitter atau microsite untuk mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan mereka. Nyatanya lewat social media kegiatan sosial mereka terus menggurita.

Dari 290 proposal yang masuk tim juri yang terdiri dari Robi Muhamad seorang ahli dibidang komunikasi online dan Alissa Wahid seorang penggiat kegiatan sosial memilih 5 finalis penerima Klik Hati Award.

Siapa saja  mereka ?

Website : indonesiaberkebun.org

Gairah berkebun di perkotaan (urban farming) yang dirintis komunitas Indonesia Berkebun pun menjalar ke kota-kota lain. Ada 3 hal manfaat berkebun ini, yakni ekologi, ekonomi dan edukasi. Ekologi karena berkontribusi pada hijaunya kota. Ekonomi lantaran ada nilai ekonomi dari hasil kebun. Edukasi lantaran bisa mengajarkan kepada anak-anak, bagaimana mencintai alam.  Kegiatan digagas secara iseng oleh Ridwan Kamil yang akrab dipanggil Emil seorang arsitek dan pengajar di ITB lewat twitternya.

Lahan yang mereka garap pertama kali adalah di Springhill Golf Residence, Kemayoran, Jakarta Pusat. Lahan itu merupakan lahan pinjaman dari klien Emil. Luas lahan yang dipinjamkan adalah satu hektar. Aktivitas berkebun di tanah ini dimulai pada 20 Februari lalu dengan menanam kangkung. Target berikutnya @Jktaberkebun akan memanfaatkan lahan di Cengkareng, Bintaro dan Kuningan.

Berkat semangat para “sahabat berkebun” berbagi dan menjadi buzzers dan influencers baik di twitter maupun jejaring sosial lainnya (www.indonesiaberkebun.blogspot.com dan Facebook: JktBerkebun [Jakarta Berkebun] hanya dalam 3 bulan saja, kegiatan Indonesia Berkebun ini menyebar ke kota-kota lain. Akun twitter yang menjadi alat untuk berjejaring pun mulai meramaikan timeline. Dimulai dari @JktBerkebun (Jakarta Berkebun) dan @IDberkebun, kemudian mulai bermunculan pula di kota-kota lain: @BdgBerkebun, @BgrBerkebun & @SmgBerkebun mulai menyiapkan lahan dan menanami nya. Hingga saat ini pun masih banyak media massa yang datang meliput kegiatan ini.

Website : pondokyatim.rumahtulis.com/

Menjadi anak yatim, apalagi papa tentu bisa memupuskan cita cita. Anak yatim juga berhak maju. Kondisi ini membuat Baban Sarbana menelorkan program Yatim Online. Tujuannya mendidik anak-anak yatim di Pondok Yatim agar memiliki kemampuan menulis, internet dan berinteraksi dengan dunia luar melalui dunia maya.
Pondok Yatim Menulis ini berdiri sejak Maret 2010. Di Situ Taman, Desa Tamansari Rt 04/05, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, sudah ada lahan seluas 600 meter persegi, dengan bangunan 80 meter persegi. Fokus pada dunia maya ini diharapkan, agar anak yatim bisa berinteraksi dengan internet hingga memiliki web tv sederhana untuk anak-anak yatim. Dari dunia maya pula, dana bisa dihimpun. Terutama melalui jejaring sosial facebook(disebut Jamaah Fesbukiyah), twitter (Tarikat Twitteriyah), juga melalui layanan mailing list serta layanan pesan Blackberry Messenger, milist.

Dunia maya memang menjadi sarana yang efisien. Komunitas http://www.rumahtulis.com sebagai ajang untuk membangun komunitas anak yatim yang ingin mampu menulis. Harapannya, kelak bisa menerbitkan karya anak yatim dalam dunia tulis menulis. Dokumentasi kegiatan mereka juga direkam. Rekamannya diunggah di situs http://www.yatim.tv.

Jejaring sosial tentu juga dimanfaatkan. Di facebook, akun Pondok Yatim Menulis sudah memiliki 1.450 anggota. Akun ini digagas oleh Baban Sarbana dan dikelola oleh delapan admin. Melalui akun @babansarbana, Yatim Online juga ada di twitter dengan 1.619 pengikut.

Website : indonesiabercerita.org

Indonesia Bercerita adalah digagas Bukik alias Budi Setiawan untuk mempromosikan dan memberikan dukungan upaya mendidik melalui cerita. Indonesia Bercerita menyediakan podcast (mp3) berisi cerita-cerita yang membebaskan imajinasi anak untuk menemukan diri terbaiknya. Podcast cerita ini dapat diunduh secara gratis. Adanya podcast ini diharapkan adanya penyebaran kebiasaan bercerita sebagai proses pendidikan secara formal maupun informal. Indonesia Bercerita juga melakukan kegiatan Pelatihan Pejuang Pencerita, Festival Para Pencerita dan Festival Menciptakan Cerita.

Website : www.balebengong.net

Bale Bengong digagas Anton Muhajir sebagai  portal yang dibangun sebagai upaya mewujudkan jurnalisme warga di Denpasar, Bali. Dalam jurnalisme warga (citizen journalism), warga tidak hanya jadi objek berita, tapi sekaligus subjek. Warga terlibat aktif untuk menulis atau sekadar memberi respon atas sebuah kabar. Portal ini dikelola bersama-sama oleh Sloka Institute dan Bali Blogger Community dengan dukungan para sponsor dan kontributornya.

Siapapun Anda bisa berbagi kabar di portal ini. Tentang cerita apa pun yang relevan dengan Denpasar atau Bali secara umum. Tidak usah kabar-kabar penting, kabar paling pribadi pun bisa. Jurnalisme warga memberikan kesempatan pada tiap warga untuk menggunakan sudut pandangnya sendiri dalam menulis. Objektivitas bukan hal penting dalam tulisan-tulisan di portal ini. Semua penulis menggunakan subjektivitas masing-masing. Namun semua berdasarkan fakta dan kejujuran (fairness). Karena itu pertanggungjawaban tiap kabar ada di penulis masing-masing.

Website : akademiberbagi.blogdetik.com

Ainun Chomsun memulai Akademi Berbagi ini awalnya karena iseng tweet ke Subiyakto CEO Hotline Advertising untuk membagi ilmunya Script Writter. Gayung bersambut permintaan direspon Subiyakto dengan membagikan ilmu gratis asal diikuti oeh 10-20 orang. Kegiatanpun berkembang, Akademi Berbagi menjadi sebuah adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan yang bisa diaplikasikan langsung sehingga para peserta bisa meningkatkan kompetensi di bidang yang telah dipilihnya. Bentuknya adalah kelas-kelas pendek yang diajar oleh para ahli dan praktisi dibidangnya masing-masing.

Seluruh kegiatan di Akademi Berbagi gratis. baik untuk para guru, murid dan volunteernya. Sistem kelasnya selalu berpindah-pindah tergantung dari para relawan yang mau meminjamkan ruang mitingnya. Sampai April ini, Akademi Berbagi telah merambah ke beberapa kota di luar Jakarta. Kota-kota tersebut adalah : Bandung, Semarang, Jogjakarta, Medan, Ambon, Palembang dan Surabaya.

Kelas yang ada sekarang Copy writing, Art Directing, Creative, Online Jurnalism, Social Media, Fotografi, Script Writing, Public Relations, Financial Plan, Music, sound design & production, Public Speaking, Event Organizer (EO) dan Liaison Officer (LO). Aktifitas Akademi ditunjang dengan pemanfaatan optimal sosial media terutama melalui akun @akademiberbagi di Twitter dan informasi detil di website-nya http://akademiberbagi.blogdetik.com.

Kelima kegiatan sosial ini digawangi oleh anak-anak muda ini terus berupaya berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitarnya, di tengah kesibukan mereka sebagai seorang pekerja yang mencintai profesinya tetap masih punya waktu untuk terus menyalurkan energi positif pada banyak orang yang kemudian energi itu diserap dan disebarkan kembali ke seluruh dunia lewat dunia maya. Kelima anak muda itu pantas dijadikan contoh bahwa jejaring sosial bisa juga dimanfaatkan untuk membantu banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang pantas kita sebut, “Pahlawan Dunia Maya”.

Nantikan siapa yang berhak menyandang The Best 2 dan berhak atas uang tunai sebesar Rp.40 juta untuk dimanfaatkan dalam mengembangkan kegiatan sosial mereka.

Anda bisa melakukan juga kan ?

09
Apr
11

Cintai produk anak negeri, ketika anak muda mampu berunjuk gigi


Tahun 2009  Pemerintah mencanangkannya sebagai Tahun Kreatif. ada tiga kelompok besar yang menjadi unggulan dari 14 sektor ekonomi kreatif nasional yaitu fashion, kerajinan dan kriya. Sektor unggulan ekonomi kreatif yang lain adalah film dan musik nasional yang telah melahirkan karya film, animasi, fashion, musik, sofware, game komputer yang bagus dan berkualitas serta mendapat kesempatan untuk tampil di forum Internasional. Seperti diketahui, pasar industri kreatif juga sangat besar yaitu 47% dari penduduk Indonesia sebab saat ini penduduk Indonesia yang berumur di bawah 29 tahun. Mereka adalah pasar ekonomi kreatif maupun sumber SDM kreatif. Kontribusi ekonomi kreatif ini cukup besar terhadap perekomian indonesia yaitu mencapai 6,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, industri ekonomi kreatif juga telah  berhasil menciptakan 5,4 juta lapangan kerja, pengurangan angka kemiskinan dan membantu pemberdayaan UKM.

Industri kreatif bergulir hingga kini terutama bidang fashion.  Anak muda Indonesia saat ini sungguh sangat membanggakan, di bidang fashion anak-anak itu mampu berdiri menciptakan produk dan bangga dengan brand yang diciptakan sendiri. Jika awal tahun 2000an banyak anak muda keliling Thailand, Korea, China dan Hongkong untuk membeli barang-barang disana kemudian di-re-brand dengan merek ciptaannya. Diawali dengan “Orange” di awal tahun 2000, cukup hits dan laku keras kala itu, disusul oleh “Gaudi” yang digawangi Janet sahabat saya, “Mineola”, “Yelow” dan  yang terakhir “Nyla”. Tahun 2005 Cilandak Town Square (Citos) mengawali trend bazaar, berbagai mixed brand digelar disana dan sukses hingga kini banyak peserta bazaar yang mulai coba-coba menampilkan  produk ciptaannya. Tak disangka publik yang umumnya anak muda juga menerimanya. Kesuksesan Citos diikuti oleh mal lain.

 

Kini dalam 3 tahun terakhir anak-anak muda PD untuk  unjuk gigi, mereka mulai yakin dengan desain dan merek yang mereka ciptaan. Brightspot diciptakan Anton Wiryono sahabat saya dengan membuat bazaar fokus pada produk lokal dan sukses besar. Antara crowd yang datang dan para peserta bazaar adalah anak muda di lingkaran yang sama. Disetiap Brightspot diadakan  selalu sukses sehingga Anton ditawari untuk membuka outlet yang lebih permanen di Plaza Indonesia, 3 bulan lalu lahirlah The Goods department store khusus produk lokal dengan konsep yang lebih modern layakya Sogo atau Metro. Anak-anak muda itupun mendapat tempat yang layak atas kerja kerasnya.

 

Keberhasilan Brightspot diadaptasi oleh Grand Indonesia untuk menciptakan keramaian di lokasi paling sepi di West Mall dan lahirlah Level One di lantai 1 dengan mengundang beberapa perancang seperti Kleting, Ichwan Thoha dan beberapa produk yang sudah lebih dulu mapan seperti “CIEL” dan “DANJIO”, ada juga produk karya selebritis Daniel Mananta dengan nama “Damn I Love Indonesia”. Dengan sistem bagi hasil  35%-65% para pemilik brand tidak dikenakan sewa tempat namun mereka wajib membuat desain toko yang menarik dimana desainnya terlebih dahulu disetujui pihak Grand Indonesia. Dengan sistem kasir sentral, penjualan bisa dikontrol oleh Grand Indonesia.

 

Keberhasilan Level One kemudian diikuti oleh Mazee The Art and Fashion Store di FX Plaza dengan desain toko yang lebih menarik dan bergaya  anak muda, Mazee lebih mirip The Goods di Plaza Indonesia.  Dita Bakrie menangkap fenomena menarik itu dengan menciptakan Manekineko di malnya, Epicentrum.

 

Saya menangkap fenomena menarik itu dan bangga pada anak-anak muda yang mampu membuat karya seperti layaknya brand Internasional. Jiwa enterpreneurship mereka tersalurkan oleh beberapa mal yang mulai melirik brand-brand lokal potensial.  Meskipun bukan rahasia umum lagi mal itu menangkap tren itu  untuk meningkatkan ‘traffic’, Plaza Indonesia meminang Anton Wiryono untuk membuat The Goods karena lokasi yang ditawarkan saat ini adalah lokasi ‘nganggur’ dan hak pengelolaanya hanya 1 tahun. Grand Indonesia membuka Level One di West Mall karena lokasi menuju ex Harvey Nichols itu adalah lokasi yang sangat sepi. Rencananya akhir tahun 2011 lokasi main enterance Grand  Indonesia akan dipindahkan ke West Mall dari arah Thamrin beberapa lantai dibawah Level One. Dengan terciptanya ‘traffic’ di West Mall akan memudahkan rencana itu. Demikian juga dengan FX Plaza, mal yang dikenal sebagai mal yang sering  berubah konsep ini  berharap keberadaan Mazee untuk menaikkan ‘traffic’ anak-anak muda untuk datang  ke FX Plaza. Dan yang terakhir adalah Epicentrum yang baru buka akhir tahun lalu ini masih memiliki pekerjaan rumah yang sejibun selain tentunya bagaimana menarik calon tenant mau membuka outletnya disana agar malnya tidak kosong melompong, nampaknya Epicentrum membutuhkan waktu 2 tahun sampai malnya rame. Untuk menciptakan ‘traffic’ anak muda, Dita kemudian membuat Manekineko yang lokasinya memang masih ‘nganggur’.

Sudah saatnya Pemerintah menangkap fenomena ini, melalui Smesco Indonesia – Kementrian UKM dan UKM KADIN. Seharusnya mereka tidak hanya fokus pada fashion, kerajinan dan kriya khas Indonesia tapi mulai memperhatikan industri fashion modern yang lebih diminati oleh pasar lokal. Mereka juga harus berkolaborasi dalam pembinaan Usaha Kecil dan Menengah. Suatu hari anak-anak muda ini membutuhkan dukungan Pemerintah untuk serius mengelola bisnis barunya bukan hanya sekedar sebuah hobi yang butuh penyaluran. Saya berharap ini bukan hanya fenomena sesaat seperti halnya fenomena “Tenda Gaul” di akhir tahun 90an.

Menurut anda ?