Archive for October, 2011

30
Oct
11

Sang Penari, visualisasi Ronggeng Dukuh Paruk yang puitis


Saya jatuh cinta pada Srintil dan trilogi karya Achmad Tohari sejak tahun 80an ketika itu Ronggeng Dukuh Paruk menjadi cerita bersambung di Harian Kompas. Saya sangat menyukai karya-karya Achmad Tohari. Seperti halnya karya Remy Silado, saya mengkoleksi novel-novel karya Achmad Tohari termasuk trologinya Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala. Kalau Bang Remy piawai dalm detail menggambarkan sebuah tempat atau kota seperti pada Novelnya, Varij Van Java dan Achmad Tohari sangat piawai membangun suasana sehingga pembaca akan larut dalam ceritanya sejak halaman pertama, dia juga mampu memotret kemiskinan Dukuh Paruk dukuh terpencil di wilayah Banyumas, Jawa Tengah dengan sangat detail. Alam desa dan aroma kemiskinan sangat indah dalam balutan penanya, itu sebabnya saya jatuh cinta pada karya-karyanya.

Ketika saya  mendengar bahwa Salto Film akan mengangkat Ronggeng Dukuh Paruk ke layar lebar, ada rasa suka cita meskipun ada kehawatiran luar biasa apakah film Sang Penari akan seindah karya Achmad Tohari mengingat saya seorang pembaca kritis, novelis dan penggemar film-film bermutu banyak sekali novel-novel bagus ketika diangkat ke layar lebar sungguh sangat mengecewakan, Forest Gump dan Eat, Pray and Love contoh film-film yang jauh dari ekspektasi saya.

Tapi melihat castingnya adalah pemain yang hebat sedikit banyak menghibur ketakutan saya  sebut saja Slamet Rahardjo, Dewi Irawan,  Tio Pakusadewo, Happy Salma dan Lukman Sardi. Oka Antara saya lihat di film Sang Penari cukup mewakili tokoh Rasus yang ada dibenak saya. Prisia Nasution yang sering saya lihat di layar kaca FTV sosoknya yang sangat ‘Indonesia’ sangat mewakili sosok Srintil meski kulitnya kurang sawo matang.

Ketika berkesempatan ikutan Nobar di Jakarta, saya sedikit lega film tersebut cukup mewakili Novel yang saya kagumi sejak taun 80an yaitu Ronggeng Dukuh Paruk meski banyak hal berbeda dengan novelnya. Sutradara muda Ifa Isfansyah menggunakan kemampuannya berimprovisasi dan mampu memotret kemiskinan dengan plot cerita dan penokohan Srintil dan Rasus dengan tepat, dia tidak meletakan sensualitas ronggeng menjadi sebuah erotisme yang vulgar. Meskipun endingnya berbeda dengan novel aslinya tapi pesan moral yang ingin disampaikan Achmad Tohari dalam novelnya cukup mewakili. Saya menyadari bahwa tidak mudah membuat visualisasikan sebuah novel yang kaya akan konteks ke dalam film berdurasi 2 jam.

‘Rasa’ kampung Dukuh Paruk cukup terwakili oleh costum style ala Chitra Subiyakto.  Sebagai sahabat Chitra, saya tahu sudah menduga bahwa koleksi batiknya akan sangat membantu menggambarkan sosok Srintil yang ‘ndeso’. Namun sayangnya keterpencilan Dukuh Paruk kurang tervisualisasikan dengan baik dari sisi gregrafis maupun sosialnya padahal menurut saya keterpencilan Dukuh Paruk merupakan kekuatan novel Achmad Tohari ini.

Yang patut diacungi jempol adalah aktingnya Prisia, dia mampu menghidupkan tokoh Srintil, mengingatkan  saya pada akting Meriam Bellina dalam Film Roro Mendut produksi Gramedia Film dan karya Alm. Ami Priyono tahun 1983. Akting prima Meriam Bellina yang berani di film tersebut membuat film Roro Mendut batal ditayangkan di Festival Film Indonesia di Tropenmuseum Amsterdam karena dianggap terlalu sensual. Beruntung Ifa tidak mengumbar sensualitas tarian magis Srintil menjadi berlebihan. Srintil tetap menjalani takdirnya menjadi penari ronggeng.

Srintil yang ending dalam novelnya terganggu mentalnya dan harus meratapi nasibnya di RS. Jiwa tetapi dalam dalam film Sang penari, ending Srintil mengalami gangguan mental tetapi mampu membebaskan dirinya untuk menjadi ‘penari yang sebenarnya’.

Paling tidak Film Sang Penari mampu memenuhi keinginan saya memvisualisasikan novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah puluhan kali saya baca. Salut pada Salman Aristo dan Shanty Harmayn dengan Salto Film yang telah menyuguhkan film bermutu di tengah terpuruknya film Indonesia akhir-akhir ini membuat saya tetap optimis pada film Indonesia.

Advertisements
30
Oct
11

Pemotongan Hewan Kurban Yang Benar, haruskah mengalahkan tradisi ?

Menjelang Idul Adha, ada tradisi masyarakat yang tidak bisa terlewat dalam kebiasaan masyaraat Islam yaitu Ibadah Kurban. Dalam Al-Quran dalam Surat Al-Maidah : 27, Ash-Shaffat : 102 – 107 dan Al-Kautsar : 2 yang berbunyi : Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” Dan Ibdah Kurban merupakan pembuktian kecintaan dan keikhlasan kita kepada sang Khaliq. Tradisi kurban berupa penyembelihan hewan kambing, domba dan sapi sudah kita lakukan sejak kecil. Kurban dilakukan di rumah-ruamh, mesjid hingga sekolah dan pesantren. Tidak ada yang salah dengan tradisi itu, sah-sah aja namun tahukah kamu ada beberapa hal yang harus kita waspadai dengan benar.

 

Ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk memilih hewan kurban yang dianggap layak yaitu hewan harus sehat, tidak cacat (tidak pincang, tidak buta, daun telinga tidak rusak, tanduk tidak patah) dan tidak kurus, berjenis kelamin jantan, cukup umur (kambing/domba berumur di atas 1 tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap dan sapi/kerbau berumur di atas 2 tahun ditandai dengan tumbuhnya sepasang gigi tetap. Nah, dengan ketentuan seperti hal tersebut maka kambing/domba atau kerbau/sapi yang akan dijadikan hewan kurban dianggap layak untuk konsumsi. Sekarang Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Pertanian atau Dinas Peternakan di masing-masing wilayah telah melancarkan pemeriksaan menjelang Idul Adha, contohnya Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Kelautan dan Pertanian bidang Peternakan sudah melakukan kegiatan pelayanan pemeriksaan hewan dan daging kurban serta tata cara penyembelihan hewan kurban yang baik dan benar. Bekerja sama dengan dengan Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor, Balai Kesehatan Hewan dan Ikan (BKHI), PD Dharma Jaya, Dinas Kebersihan, Walikota dan Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu serta daerah pemasok ternak. Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta menurunkan petugas sebanyak 690 orang.

Pemerintah sedang gencar mensosialiasikan untuk mengugah kesadaran masyarakat agar melakukan pemotongan hewan kurban di tempat yang benar yang sudah memenuhi standarisasi keyalakan dan higienis karena tempat penyembelihan yang dilakukan di rumah-rumah, mesjid-mesjid maupun sekolah/pesantren merupakan tempat yang tidak layak dijadikan tempat penyembelihan. Mulailah melakukan penyembelihan di tempat pemotongan hewan kurban yang benar. Di Jakarta saja tahun 2010 ada sekitar 1.847 Tempat Pemotongan Hewan Kurban yang melakukan penyembelihan 41.163 hewan (8.112 ekor sapi dan 33.051 ekor kambing/domba) sedang di tahun yang sama ada sekitar 92.361 ekor hewan yang tersebar di 1.439 Tempat Penampungan Hewan Kurban (tempat penjualan). Jika tahun 2010 hewan kurban yang terjual sebanyak 92.361 ekor sedangkan yang dipotong di tempat pemotongan hewan kurban yang benar hanya 41.163 ekor berarti masih ada 51.198 ekor yang dipotong di tempat tak layak seperti rumah, mesjid dan sekolah/pesantren. Wow!

Hal yang harus dicatat oleh kita bahwa tradisi penyembelihan hewan kurban yang dilakukan di rumah, mesjid, sekolah/pesantren selain  tidak memenuhi standar higienis yang benar juga akan menimbulkan efek traumatis bagi anak-anak yang melihat proses penyembelihan, Kok bisa ?

Coba kita lihat dengan jernih, pernahkah kita melihat bahwa si tukang potong hewan yang dilakukan di sekitar lingkungan kita melakukan penyembelihan yang benar ? Seperti apakah tempat penyembelihan diatas lantai ubin yang licin yang bersih ? Atau paling tidak melapisi dengan alas plastik yang bersih ? Kemana darah hewan kurban mengalir ? Dibiarkan merembes di tanah atau mengalir ke selokan ? Apakah potongan daging hewan ditampung di wadah yang bersih atau di pengki (tempat sampah dari kulit bambu) dan terakhir apakah daging kurban yang akan dibagikan dibungkus plastik kresek hitam (padahal plastik jenis ini sangat berbahaya digunakan). Itu dari sisi higienisnya saja. Sekarang efek traumatis. Kerap pemotongan hewan kurban yang dilakukan di lingkungan kita menjadi tontonan gratis bagi masyarakat dan anehnya 90% ditonton oleh anak-anak. Tidak bisa dipungkiri bahwa tradisi memotong hewan kurban yang dilakukan oleh orang yang mampu akan menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi yang melakukan ibadah kurban dan banyak dari mereka mengundang teman, tetangga serta keluarga untuk datang dan melihat proses pemotongan tadi. Sekilas nampak sepele tapi efek kebiasaan melihat pemotongan hewan yang dilakukan oleh anak-anak adalah efek yang bisa dirasakan ketika sang anak dewasa, apalagi jika melihat tukang potong melakukannya dengan sangat sadis tanpa mengindahkan cara memotong hewan yang baik dan benar.

Sekarang bagaimana mengubah tradisi pemotongan hewan yang dilakukan di lingkungan kita ke tempat pemotongan hewan kurban yang benar bukanlah perkara mudah karena harus mengubah rasa ‘kebanggaan’ masyarakat mampu. Tugas pemerintahlah mengubah sudut pandang masyarakat itu, yang terpenting niat baiknya tetap akan dinilai sama besarnya dimata Allah SWT.