Archive for the 'Resensi Film' Category

15
Jun
12

Broken Heart, Cinta dua orang Sahabat

Continue reading ‘Broken Heart, Cinta dua orang Sahabat’

Advertisements
12
Mar
12

Hugo, kejarlah mimpimu!

Kerjalah Mimpimu! kurang lebih begitulah inti pesan film besutan Martin Scorsese ini. Film berbiaya produksi US$170 juta ini layak ditonton. Memborong banyak penghargaan diantaranya peraih Oscar 2012 untuk kategori visual efek terbaik, sound editing terbaik, sinematografi terbaik, art direction terbaik dan sound mixing terbaik. Diangkat dari cerita anak-anak yang berjudul ‘The Invention of Hugo Cabret’ karangan Brian Selznick, film fantasi drama ini adalah karya pertama sutradara Martin Scorsese yang dibuat dengan format 3D. Berkisah tentang Hugo Cabret (Asa Butterfield) yang hidup diantara dinding-dinding di Stasion Montparnasse, Paris di tahun 1930an tanpa seorangpun menyadarinya. Hugo yang hidup yatim piatu  harus selalu memastikan mesin jam dinding di stasiun selalu diputar agar selalu tepat waktu. Hugo harus menjalankan tugas pamannya setelah pamannya menghilang dan diketahui tewas beberapa bulan berikutnya. Untuk bisa bertahan hidup, Hugo menjadi pencopet ulung dan dengan kecepatannya berlari, Hugo selalu mampu menghindari kejaran polisi stasiun yang kerjanya menangkapi anak tanpa orang tua untuk dikirim ke rumah yatim piatu. Lewat dunia Hugo dibalik jam besar stasiun, Hugo bisa melihat ‘kehidupan’ seputar stasiun seperti seorang pemilik toko mainan anak-anak yang muram, Georges Melies (Ben Kingsley), si polisi stasiun (Cohen) yang tidak punya keberanian menegur gadis penjual bunga atau melihat pendekatan seorang pria terhadap perempuan yang tidak bisa dilakukan karena anjing milik sang perempuan.

Lewat kepiawaian Scorsese, ruang dan mesin di belakang jam  bisa menjadi latar belakang film yang sedap dipandang bahkan Kota Paris yang indah dilihat dari menara tempat Hugo tinggal. Hugo bukanlah anak laki-laki ceria, teka-teki kenapa Ayahnya (Jude Law) meninggalkan pertanyaan di dalam hatinya dan menyimpan luka besar yang menganga. Satu-satunya warisan sang ayah adalah robot, Automaton. Mewarisi bakat sang ayah sebagai seorang ahli mesin jam, setiap waktu Hugo berupaya memperbaiki mesin ‘dalam’ robot tersebut agar bisa kembali bergerak meski setiap potongan mesin tadi didapat dari mencuri. Hugo ingat sang ayah bercerita bahwa robot itu diperoleh dari museum yang habis terbakar. Hugo menyimpan robot berikut buku catatan tentang robot tersebut.

Petualangannya mempertemukannya pada Isabelle (Chloe Moretz) gadis serba ingin tahu anak baptis Melies yang telah merebut catatan penting untuk menghidupkan Automaton. Perkenalannya bukan saja membawa gadis itu pada dunia Hugo namun menjadi penghubung misteri Automaton dan masa lalu ayahnya yang ingin dikuburnya dalam-dalam. Persahabatan mereka kemudian menguak siapa sebenarnya Georges Melies. Yang ternyata mantan pesulap besar sekaligus perintis sinema Perancis yang penah jaya dan mampu menghasilkan 100 karya film terkenal di masanya. Film petualangan anak-anak pun berubah menjadi misteri muramnya sang pemilik toko mainan anak-anak itu. Sejarah dan karya Melies ditampilkan Scorsese begitu indah. Scorsese mencermati properti dengan sangat detail, Stasiun Montparnasse begitu indah dan kaya detail serta mampu menghadirkan suasana 1930an.

Lewat film Hugo, di usia Scorsese ke-70 dia mampu membuktikan bahwa film anak-anak bergenre Adventure mampu membuat orang dewasa tetap bertahan di tempat duduknya hanya untuk tahu misteri apa yang ada dibalik film Hugo. Buktinya film ini dinominasikan dalam 11 kategori Academy Awards 2012 meski hanya mengantongi 5 piala Oscar saja. Meski kalah dari Michel Hazanavicius dengan filmnya The Artist, Scorsese tetap adalah sutradara piawai dimata saya.

—————————————————————————————–

Pemain: Asa Butterfield, Ben Kingsley, Chloe Moretz, Sacha Baron Cohen

Genre: Adventure

Director: Martin Scorsese

Screenplay: John Logan

Producer: Johnny Depp, Tim Headington, Graham King, Martin Scorsese

Distributor: Paramount Pictures

Runtime:127 minutes

Budget: US$ 170 juta

Official Site:www.hugomovie.com

30
Oct
11

Sang Penari, visualisasi Ronggeng Dukuh Paruk yang puitis


Saya jatuh cinta pada Srintil dan trilogi karya Achmad Tohari sejak tahun 80an ketika itu Ronggeng Dukuh Paruk menjadi cerita bersambung di Harian Kompas. Saya sangat menyukai karya-karya Achmad Tohari. Seperti halnya karya Remy Silado, saya mengkoleksi novel-novel karya Achmad Tohari termasuk trologinya Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala. Kalau Bang Remy piawai dalm detail menggambarkan sebuah tempat atau kota seperti pada Novelnya, Varij Van Java dan Achmad Tohari sangat piawai membangun suasana sehingga pembaca akan larut dalam ceritanya sejak halaman pertama, dia juga mampu memotret kemiskinan Dukuh Paruk dukuh terpencil di wilayah Banyumas, Jawa Tengah dengan sangat detail. Alam desa dan aroma kemiskinan sangat indah dalam balutan penanya, itu sebabnya saya jatuh cinta pada karya-karyanya.

Ketika saya  mendengar bahwa Salto Film akan mengangkat Ronggeng Dukuh Paruk ke layar lebar, ada rasa suka cita meskipun ada kehawatiran luar biasa apakah film Sang Penari akan seindah karya Achmad Tohari mengingat saya seorang pembaca kritis, novelis dan penggemar film-film bermutu banyak sekali novel-novel bagus ketika diangkat ke layar lebar sungguh sangat mengecewakan, Forest Gump dan Eat, Pray and Love contoh film-film yang jauh dari ekspektasi saya.

Tapi melihat castingnya adalah pemain yang hebat sedikit banyak menghibur ketakutan saya  sebut saja Slamet Rahardjo, Dewi Irawan,  Tio Pakusadewo, Happy Salma dan Lukman Sardi. Oka Antara saya lihat di film Sang Penari cukup mewakili tokoh Rasus yang ada dibenak saya. Prisia Nasution yang sering saya lihat di layar kaca FTV sosoknya yang sangat ‘Indonesia’ sangat mewakili sosok Srintil meski kulitnya kurang sawo matang.

Ketika berkesempatan ikutan Nobar di Jakarta, saya sedikit lega film tersebut cukup mewakili Novel yang saya kagumi sejak taun 80an yaitu Ronggeng Dukuh Paruk meski banyak hal berbeda dengan novelnya. Sutradara muda Ifa Isfansyah menggunakan kemampuannya berimprovisasi dan mampu memotret kemiskinan dengan plot cerita dan penokohan Srintil dan Rasus dengan tepat, dia tidak meletakan sensualitas ronggeng menjadi sebuah erotisme yang vulgar. Meskipun endingnya berbeda dengan novel aslinya tapi pesan moral yang ingin disampaikan Achmad Tohari dalam novelnya cukup mewakili. Saya menyadari bahwa tidak mudah membuat visualisasikan sebuah novel yang kaya akan konteks ke dalam film berdurasi 2 jam.

‘Rasa’ kampung Dukuh Paruk cukup terwakili oleh costum style ala Chitra Subiyakto.  Sebagai sahabat Chitra, saya tahu sudah menduga bahwa koleksi batiknya akan sangat membantu menggambarkan sosok Srintil yang ‘ndeso’. Namun sayangnya keterpencilan Dukuh Paruk kurang tervisualisasikan dengan baik dari sisi gregrafis maupun sosialnya padahal menurut saya keterpencilan Dukuh Paruk merupakan kekuatan novel Achmad Tohari ini.

Yang patut diacungi jempol adalah aktingnya Prisia, dia mampu menghidupkan tokoh Srintil, mengingatkan  saya pada akting Meriam Bellina dalam Film Roro Mendut produksi Gramedia Film dan karya Alm. Ami Priyono tahun 1983. Akting prima Meriam Bellina yang berani di film tersebut membuat film Roro Mendut batal ditayangkan di Festival Film Indonesia di Tropenmuseum Amsterdam karena dianggap terlalu sensual. Beruntung Ifa tidak mengumbar sensualitas tarian magis Srintil menjadi berlebihan. Srintil tetap menjalani takdirnya menjadi penari ronggeng.

Srintil yang ending dalam novelnya terganggu mentalnya dan harus meratapi nasibnya di RS. Jiwa tetapi dalam dalam film Sang penari, ending Srintil mengalami gangguan mental tetapi mampu membebaskan dirinya untuk menjadi ‘penari yang sebenarnya’.

Paling tidak Film Sang Penari mampu memenuhi keinginan saya memvisualisasikan novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah puluhan kali saya baca. Salut pada Salman Aristo dan Shanty Harmayn dengan Salto Film yang telah menyuguhkan film bermutu di tengah terpuruknya film Indonesia akhir-akhir ini membuat saya tetap optimis pada film Indonesia.

06
Nov
10

Putus Arang, rasa sayang Ibu yang berlebihan

Mimi Sawitri (Yatie Surahman) adalah pemilik sanggar tari topeng Cirebonan yang terkenal dengan perannya sebagai ‘Calon Arang’ dan Pak Taha (Piet Pagau) adalah seorang saudagar perahu nelayan keturunan Bugis hidup berkecukupan dengan dua orang anak. Si sulung Yanti (Gina Gizrya) yang sudah menikah dengan seorang laki-laki yang diperankan oleh Agus Kuncoro yang sedang mengandung anak pertamanya dan Soni (Guntara Hidayat) anak bungsu yang paling disayang Mimi Sawitri.

Persoalan keluarga muncul ketika banyak keanehan di keluarga tersebut, misalnya Mimi yang tidak mampu membayar honor para penarinya hingga berbulan-bulan, mulai menggadaikan perhiasannya bahkan sering kehilangan uang di rumah yang menyebabkan Yanti dan suaminya kerap bertengkar. Rupanya baik Mimi maupun Yanti tanpa bercerita kepada suaminya masing-masing mengetahui bahwa Soni kecanduan narkoba, itu sebabnya uang di rumah seringkali hilang. Mimi selalu menganggap Soni adalah anak baik, penurut dan percaya saja ketika Soni blang sudah menjauhi narkoba.

Pak Taha mulai mengetahui bahwa istrinya sering meminjam uang pada rentenir, mulai melunasi hutang-hutang tersebut dan membayar utang pada para penari tanpa mengerti kemana larinya uang-uang itu. Namun demi melindungi anaknya dari amarah Mamaknya, Mimi menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi.

Rahasiapun terbongkar, Pak Taha mulai mengerti dan Soni sudah berjanji pada keluarganya untuk sembuh dan menjauhi barang haram itu. Namun Soni tetap tidak pernah berubah, puncaknya ketika ‘sakau’ Sony melukai Yanti demi untuk mendapat perhiasan kakaknya yang akan dibelikan narkobanya. Kesulitan keluarga Daeng Taha menimbulkan perasaan iba Charli salah satu pegawainya yang paling setia. Charli akhirnya membunuh Soni dalam perang badik sebagai salah satu bentuk keprihatiannya pada penderitaan Daeng Taha. Baginya membunuh Soni adalah salah satu cara memutus tali penderitaan keluarga Taha. Soni dibunuh tepat di malam penganugerahan Bintang Mahakarya atas dedikasi Mimi Sawitri pada tarian topeng Cirebon.

Jujur saja di awal-awal film ini nyaris membosankan, memang tidak semenarik film-film Sinema 20 Wajah Indonesia lain, namun kepiawaian akting Yatie Surahman dan Piet Pagau sedikit mengobati kekecewaan ini. Banyak hal tidak masuk akal sehingga cerita terasa dangkal. Hampir tidak ada korelasi antara profesi Mimi Sawitri dengan anaknya yang menderita kecanduan narkoba. Saya tadinya mengira film ini menggali banyak dunia tari topeng sebagai sebuah seni yang masih hidup hingga kini di Cirebon. Peran Agus Kuncoro dalam film ini tidak menonjol, aktingnya tidak benar-benar digali. Sayang, meski film ini skenarionya ditulis oleh Arwendo Atmowiloto dan disutradarai oleh Dedy Setiadi, film ini kategorinya biasa-biasa aja.

Maaf tanpa manyurutkan semangat ke-Indonesia-an, Sinema 20 Wajah Indonesia kali ini tidak dapat pujian dari saya bahkan mungkin dari anda ? Terserah anda yang menilai …

 

 

 

 

 

Sutradara : Dedy Setiadi

Pemain : Agus Kuncoro, Yatie Surahman, Piet Pagau, Gina Gizrya, Guntara Hidayat

Penata Kamera : Gunung Nusa Pelita

Skenario : Aswendo Atmowiloto

Ide Cerita : Deddy Mizwar

Editor : Enjah Praboe

Produksi : SCTV & Citra Sinema 2010

23
Oct
10

Sinema 20 Wajah Indonesia dari Bakpao Ping-ping kita belajar cinta tanah air


Malam ini saya menonton Sinema 20 Wajah Indonesia dari Sukabumi saat berkunjung dan menengok buah hati saya. Ditengah udara dingin saya mencoba merangkum tayangan ini dan saya persembahkan untuk anda. A Seng (Fandy Christian) adalah generasi kesekian dari penjual bakpao. Mengambil gambar di Kota Singakawang, film ini memang memotret budaya tionghoa di kota Amoy tersebut. Film ini mengambil tema tradisi Kimpoi kontrak Amoy Singkawang dengan pria-pria Taiwan. Di Taiwan pria-pria Taiwan sangat sulit menemukan jodoh karena perempuan-perempuan Taiwan tidak ada yang mau menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya pria-pria mencari perempuan Singkawang yang terkenal cantik dan penurut untuk dijadikan istri kontrak. Para perempuan yang menikahi pria-pria Taiwan itu disebut Amoy.

Lani (Nenni Anggraeni) yang terlebih dahulu berhasil di Taiwan mendirikan Biro Kasmaran untuk menyalurkan perempuan-perempuan Singkawang ke Taiwan menemukan jodohnya. Dibantu oleh keponakannya A Seng, Lani melakukan pencarian. Apa (panggilan Ayah) yang diperankan dengan baik oleh Didi Petet menentang rencana A Seng untuk mengadu nasib di Taiwan. Apa yang besar kecintaannya pada tanah Singkawang terus bertengkar dengan anaknya. Apa yang memiliki luka masa lalu itu menentang orang-orang Singkawang mengadu nasib ke Taiwan termasuk Lani adiknya yang sudah berhasil menikahi seorang pria Taiwan kaya.

Banyak masyarakat tionghoa Singkawang berfikir bahwa Taiwan adalah tanah lelulur mereka namun perbedaan ekonomi yang jauh berbeda membuat banyak orang Singkawang bemimpi hijrah dan berbisnis di Taiwan.  Banyak masyarakat Tionghoa Singkawang hidup miskin sehingga Taiwan dianggap sebagai tanah impian namun karena Taiwan sudah menjadi negara maju, para pria Taiwan sulit menemukan calon istri yang penurut dan mau mengurus rumah tangga, itu sebabnya banyak pria Taiwan mencari Amoy ke Kota Singkawang.

A Seng memilih Ping-ping (Metta Permadi) sahabatnya sebagai calon Amoy meski belakangan A Seng yang diam-diam mencintai Ping-ping menyesalkan keinginan Ping-ping menjadi Amoy.  Rupanya sikap Apa yang menentang dan membenci Taiwan karena kemiskinannya yang pernah melilit kehidupan mereka menyebabkan dulu Apa ‘menjual’ istrinya menjadi Amoy ke Taiwan. A Seng akhirnya faham apa penyebab kebencian Apanya pada Taiwan. Abu Amanya yang dikirim bersama surat terakhirnya akhirnya disebar di Sungai Singkawang agar kembali bersatu dengan tanah kelahirannya. Kemiskinan memang menyakitkan, demikian kata mendiang Ama di suratnya. A Seng yang mencintai Ping-ping akhirnya berusaha mencegah kepergian Ping-ping yang bertekad menjadi Amoy ke Taiwan demi melepaskan hidup Ibu dan adik-adiknya dari kemiskinan. Ping-ping berharap dengan uang tebusan dari pria kaya Taiwan Ibunya bisa memulai bisnis kecil-kecilan dan menghidupi adik-adiknya yang banyak. Meski akhirnya Ping-ping melarikan diri dari Taiwan dan bekerja keras untuk mengumpulkan uang demi bisa kembali ke Singkawang.  A Seng memutuskan tetap hidup di Singkawang dan membesarkan warung bakpao Apanya yang kemudian dinamainya, Bakpao Ping-ping.

Singkawang memiliki potret kemiskinan panjang, sudah banyak para perempuan Singkawang mengadu nasib dan melepaskan diri dari kemiskinan dengan kimpoi kontrak dengan pria-pria Taiwan. Dan film Bakpao Ping-ping lewat skenario karya sahabat saya Lintang Wardhani mampu memotretnya dengan baik.

Sebenarnya film ini pernah juga ditayangkan oleh SCTV dengan judul berbeda, Wo Ai Ni yang diperankan oleh Leony dan sama seperti film ini, Wo Ai Ni dibesut oleh Viva Westi juga.

Bagaimana menurut anda tayangan Sinema 20 Wajah Indonesia kali ini ?

Pemain : Fandy Christian, Metta Permadi, Didi Petet, dra. Nenni Angraeni.

Sutradara: Viva Westi

Penata Sinematografi: Zoel F. Zolla,

Penata Artistik: Frans FX. Paat

Editor: St. Ahmad Idrus JM

Skenario: Lintang Wardhani

17
Oct
10

Eat, Pray, Love sebuah perjalanan hidup

Eat, Pray, Love: adalah kisah tentang pencarian seorang wanita dalam menyusuri kota di Italia, India dan Indonesia. Ini adalah sebuah memoar yang ditulis tahun 2006 oleh penulis Amerika, Elizabeth Gilbert. Memoar ini mengisahkan tentang perjalanan Gilbert di seluruh dunia setelah perceraiannya dan apa yang ingin ditemukan selama perjalanannya. Buku ini salah satu best seller di New York Times  selama 187 minggu (menurut Metacritic, organisasi yang mereview buku-buku favorit). Hak siar film  buku best seller ini dibeli oleh Columbia Pictures yang filmnya dibintangi aktris Amerika Julia Roberts, dirilis di bioskop Amerika tanggal 13 Agustus lalu. Gibert membuat sequelnya berjudul : Committed: A Skeptic Makes Peace with Marriage dipublikasikan oleh Viking pada Januari 2010. Buku ini menutup kisah hidupnya setelah Eat, Pray, Love.

Bercerita tentang seorang perempuan bernama Elizabeth Gilbert 32 tahun berpendidikan, punya rumah, suami, dan karier yang sukses sebagai penulis. Namun tidak dibarengi dengan kebahagiaan dalam mahligai rumah tangganya, dia  sering menghabiskan malam menangis di lantai kamarnya. Kemudian mempunyai affair dengan seorang pria ketika hidupnya sedang dalam kondisi terpisah dengan suaminya, kemudian mengajukan perceraian. Perselingkuhannya tidak berjalan lancar hanya meninggalkannya hancur dan sendirian. Ketika sedang melakukan perjalanan ke Bali untuk menulis tentang yoga, dia bertemu dengan seorang pria Bali bernama Ketut dan meramalkan suatu hari Liz akan kembali ke Bali. Setelah melewati proses perceraian yang sulit, dia menikmati sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan. Menghabiskan waktunya selama 4 bulan di Italia untuk merasakan makanan enak dan menikmati hidup, empat bulan di India untuk merasakan kekuatan doa dalam perjalanan spiritualnya hingga berlabuh di Bali untuk mencari ‘keseimbangan” hidup dan cintanya dari seorang pria pengusaha asal Brazil.

Columbia Pictures membuat versi film dengan judul yang sama dan dirilis pada tanggal 13 Agustus 2010 dibintangi Julia Roberts, James Franco, Richard Jenkins, Viola Davis, Billy Crudup, Javier Bardem , Sophie Thompson dan Christine Hakim bintang Indonesia.  Eat Pray Love mulai syuting pada bulan Agustus 2009. Film lokasi termasuk New York City (Amerika Serikat), Roma (Italia), Pataudi (India), dan Bali (Indonesia). Disutradari oleh Ryan Murphy, Skenario oleh Ryan Murphy dan Jennifer Salt serta diproduseri oleh Brad Pitt, Stan Wlodkowski dan Jeremy Kleiner.

Pemimpin spiritual Ashram sempat menyuarakan keprihatinan atas produksi film dan menganjurkan untuk penggunaan konsultan spiritual untuk memastikan bahwa film tersebut memberikan gambaran sesungguhnya dari kehidupan di Ashram. Dua aktor/aktris Indonesia yang ikut terlibat adalah Christine Hakim dan Hadi Subiyanto. Publik Amerika mengkritik tajam film ini, sebagian mengangap bahwa film ini sangat inspirational terutama bagi para perempuan Amerika, sebagian lagi menganggap bahwa ceritanya sangat narchist dan dangkal. Pada Internet Movie Database hanya publik perempuanlah yang lebih menyukai film ini ketimbang laki-laki.

Film ini selain mengekspos ketenaran Julia Robert, film ala Hollywood semacam ini sering kita jumpai dalam film-filmnya Jennifer Aniston. Tapi yang menarik adalah ceritanya, bagi saya adalah langkah untuk memperbaiki dirinya yang diambil sangat orisinil yaitu langkah bertahap yang terdiri dari Makan/EAT (belajar menikmati hidup), Doa/PRAY (belajar mendekatkan diri dengan Tuhan), dan Cinta/LOVE (keseimbangan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan surgawi). Perjalannya diawali dengan merajut kegembiraan hidup di Italia dangan menikmati berbagai hidangan lezat khas Italia. Memang tidak salah bahwa orang Italia benar-benar tau cara menikmati hidup. Melakukan eksplorasi spiritual dan berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan di tempat yang terkenal sejak dulu sebagai pusat spiritual dunia yaitu India. Dan akhirnya di Indonesia tepatnya di pulau Bali, tujuan hidupnya ditemukan lewat keseimbangan dan juga pengalaman cinta yang sangat indah. Bagi siapa saja yang menginginkan perubahan yang mendasar dalam hidupnya film ini sangat layak ditonton.

Bagi anda yang sudah baca buku Eat, Pray, Love siap-siap untuk sedikit kecewa karena membaca bukunya lebih menyenangkan dibanding menonton filmnya. Kalo di bukunya pembaca bisa merasakan kepahitan yang dirasakan Liz tapi di filmnya kok saya nggak merasakan itu ya ? Jujurnya aja filmnya monoton dan membosankan. Cuma kita penasaran aja karena sebagian besar syutingnya dilakukan di Bali ditambah Christine Hakim main disana. Sedikit bikin bangga paling tidak Indonesia akan merasakan dampak akibat promo gratis ini. Akan makin banyak turis dunia datang ke Bali untuk mencari keseimbangan hidup yaitu bagaimana membangun hidup yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan kebahagiaan surgawi.

Bagaimana menurut anda ?

16
Oct
10

MAK RASIDA, tentang benturan budaya

Seperti biasa, sehabis kondangan saya buruan nongkrong depan televisi hanya karena tidak ingin ketinggalan Sinema 20 Wajah Indonesia yang judulnya Mak Rasida. Seminggu sebelumnya thriller film ini sudah mengingatkan penonton SCVTV untuk tidak lupa menonton acara ini. Saya semakin ingin menontonnya ketika Aty Cancer adalah pemain utama Mak Rasida ditambah Enison Sinaro adalah sutradara FTV kali ini.

Ceritanya sangat sederhana, tentang benturan budaya generasi muda dengan generasi tua. Berlatar belakang budaya Sumatera Barat, ceritanya Mak Rasida yang sudah hidup menjanda diminta anak semata wayang, Rusdi diperankan oleh Hefri Olifian untuk tinggal di Jakarta bersama keluarganya yang sukses. Seperti masyarakat ‘urang awak’ kebanyakan setiap orang pergi ke Ibukota selalu dititipi oleh-oleh dari kampung untuk disampaikan kepada sanak saudaranya. Rusdi yang memiliki seorang istri seorang perempuan Indo-belanda bernama Nadine diperankan oleh Feby Febiola dan seorang putri bernama Mariska. Ketika si Emak sampai di Jakarta berbagai benturan demi benturan terjadi, Rusdi adalah potret generasi muda padang yang sudah mulai luntur budayanya. Rusdi sering kali memarahi Emaknya karena selalu menerapkan kebiasaan-kebiasaannya di kampung. Karena tahu anaknya tidak mengantar titipan orang dari kampungnya, dengan marah Mak Rasida mengantar sendiri semua titipan itu dengan membawa Mariska. Puncak pertikaian mereka adalah ketika Mariska sakit dan Mak Rasida mengobatinya dengan parutan bawang merah di keningnya persis seperti yang sering dilakukannya ketika Rusdi kecil dulu. Dengan marah Rusdi melarang Emaknya menjaga Mariska lagi. Penuh kecewa Mak Rasida pulang kampung dengan menitip surat untuk Rusdi. Di suratnya Mak Rasida bercerita bahwa ternyata dia tidak sanggup untuk tinggal berlama-lama di rumah anaknya. Mak Rasida berkata bahwa apa yang dilakukan pada cucunya adalah hal yang biasa dilakukan di kampung bahkan hal itu juga dilakukan pada Rusdi semasa kecil namun semua itu tidak apa-apa buktinya Rusdi bisa meraih gelar sarjana. Jadi apa salah dengan semua kebiasaan itu jika dilakukan di jaman modern seperti sekarang ini ?

Film ini memotret kondisi sosial masyarakat kita saat ini terutama dengan budaya ‘urang awak’. Mak Rasida yang mewakili generasi lama harus berbenturan dengan generasi muda yang jauh lebih modern yang diwakili oleh Rusdi. Meski kekeluargaan masyarakat padang dikenal sangat kental namun budaya mempererat siraturahim nampaknya sudah mulai luntur. Jurang yang dalam antara si kaya dan si miskin sudah memisahkan rasa kekeluargaan antar masyarakat sekampung. Rusdi potret masyarakat padang yang tinggal di Jakarta jauh lebih modern, berpendidikan tinggi dan berhasil. Tapi apa salahnya jika tetap mempertahankan budaya lama yang rasanya masih pantas jika dipertahankan ? Sebenarnya ada sosok Pak Husein yang diperankan oleh Dedy Mizwar yang tidak digarap lebih serius. Sosok Pak Husein yang kaya dan nyetrik itu sempat mengingatkan bahwa keberhasilannya yang dinikmatinya saat ini salah satunya karena doa ibunya yang sayangnya tidak pernah menikmati keberhasilan itu. Sayang film Mak Rasida berakhir seperti sinetron pada umumnya, mudah ditebak endingnya. Rusdi, Nadine dan Mariska menyusul Emak ke Bukit Tinggi, Rusdi dan Nadine bersujud di kaki Ibunya sambil minta maaf.  Sebuah ending yang mampu menguras air mata memang tapi harusnya bisa lebih dari itu. Saya melihat film Mak Rasida sangat lemah dalam skenarionya (karya Alakdri Johan) meski digarap apik oleh Enison Sinaro, dari awal terasa sangat lamban dan membosankan padahal akting  Aty Cancer bisa dieksplor lebih. Apapun penilaian saya, Film Mak Rasida cukup menghibur dan mampu menguras air mata saya karena ingat Ibu saya.

Aty Cancer adalah idola saya sejak dulu. Aktris yang lahir di Lampung tanggal 10 Juli, 61 tahun lalu ini sudah berkarya di dunia film dan sinetron sejak tahun 1971 dalam Film Dunia Belum Kiamat. Peran-peran sebagai orang miskin sangat cocok diperankan olehnya. Film lainnya seperti Malin Kundang (1971), Mantili Si Pembunuh (1972), Potret (1991), Untuk Rena (2006), Fiksi (2008), Mati Suri (2009), Emak Ingin Naik Haji (2009). Dan film terakhirnya Aty Cancer meraih aktris terbaik dalam Indonesia Movie Award 2010 mengalahkan Atiqah Hasiholan (JAMILA DAN SANG PRESIDEN), Fanny Fabriana (HARI UNTUK AMANDA), Leony VH (IDENTITAS) dan Tika Putri (QUEEN BEE). Penghargaan sebagai pemeran utama terbaik tersebut adalah penghargaan pertama selama ia terjun ke dunia layar lebar.

Enison Sinaro adalah sutradara senior dan pengajar D3 dan S1 FFTV-IKJ dari tahun 2003 hingga sekarang. Lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, menyelesaikan pendidikannya pada jurusan Sinematografi Institut Kesenian Jakarta tahun 1983. Waktu masih di IKJ, Enison pernah meraih Juara II Sayembara Film Mini DKJ tahun 1980 dan Juara Harapan pada tahun 1982. Film-film hasil garapannya diantaranya, Mekar Diguncang Prahara (1987), Kecil-kecil Jadi Pengantin (1987), Siluman Kera (1988), Lupus III (1989), Boneka dari Indiana (1990), Oeroeg (1992), Long Road To Heaven (2007). Belum lagi sinteron yang berhasil dibuatnya diantaranya, Di Bawah matahari Bali (1992), Parmin (1993), Menghitung Hari (1995), Surau Air Hangat (1995), Hau Ema Timor (1995), Anakku Terlahir Kembali  (1996-1997). Hingga kini Enison masih aktif berkarya.

Semoga pendapat saya tidak menyurutkan anda untuk tetap menonton Sinema 20 Wajah Indonesia yang memotret kekinian masyarakat Indonesia.